Connect with us

Orang Tua Perlu Waspada! Anak Ini “Muntah Selama 3 Tahun”, Penyebabnya Tak Terduga

Inspirasi

Orang Tua Perlu Waspada! Anak Ini “Muntah Selama 3 Tahun”, Penyebabnya Tak Terduga

Orang Tua Perlu Waspada! Anak Ini “Muntah Selama 3 Tahun”, Tapi Dicek Ke Dokter “Sehat-sehat” Saja! Ternyata “Alasan” Dibaliknya Benar-benar “Tak Terduga”!!

Bener-bener ga nyangka gara-gara itu!!
Cerita ini dikutip dari pengalaman seorang Ibu yang anaknya sering muntah-muntah tanpa sebab selama 3 tahun lamanya!

Sekarang putri saya umurnya 11 tahun. Sekitar 3 tahun yang lalu, ia mulai mengalami muntah-muntah. Habis makan muntah, ga makan juga muntah. Tiap muntah mukanya sampai merah. Sekali muntah bisa berlangsung selama beberapa menit, kadang juga berjam-jam. Dalam sebulan ada beberapa kali, tapi kadang juga ada beberapa bulan sekali.
Kami sudah membawanya ke dokter. Selama 3 tahun ini, tidak tahu sudah berapa banyak rumah sakit yang kami kunjungi. Dokter pun tidak bisa menemukan apa penyebabnya.

Dokter pun curiga apakah anak saya menderita penyakit mental. Untuk itu, kami pun mencari seorang ahli psikolog anak. Tapi, setelah diperiksa oleh psikiater, anak saya tidak ada kelainan jiwa.
Saya berpikir, apakah di kehidupan masa lalu saya berbuat dosa dan sekarang Tuhan menghukum anak saya?

Kemudian, seorang teman menyarankan agar kami pergi ke sebuah Rumah Sakit di Shenzhen. Kamu belum putus asa dan tetap mencoba. Sampai di sana, dokter kami dipilihkan oleh resepsionis, terserah mau dokter apa.
Saya ingat dokter yang kami dapat adalah dokter cowok, sudah bapak-bapak.

“Halo. Saya dokter Tsai. Ada yang bisa saya bantu?”, ujarnya sambil mempersilahkan kami duduk dan memperkenalkan diri.
Entah kenapa saya merasa pertemuan dokter yang kali ini agak berbeda, seperti ada harapan.

Setelah duduk, saya pun menceritakan kondisi anak saya, kira-kira 10 menitan. Dokter sama sekali tidak memotong pembicaraan saya. Ia hanya diam terus mendengarkan saya berbicara. Saya tahu pembicaraan saya mungkin berulang-ulang, tapi dokter tampak sangat tertarik dengan apa yang saya bicarakan.

Setelah saya selesai menerangkan, dokter pun berkata bahwa ia sudah paham. Kemudian, ia bertanya kepada putri saya, “Dek, dokter mau tanya beberapa sama kamu. Ibu boleh keluar ga?”
Anak saya pun menatap saya dan menggeleng-geleng kepala, “Ibu di sini saja.”

Dokter pun meminta saya untuk tidak berbicara selama proses pertanyaan, hanya boleh mendengar saja, tidak boleh memotong, juga tidak boleh berbicara dengan putri saya.

“Yang tadi mama katakan itu benar?”, tanya dokter ke putri saya.
Putri saya mengangguk-anggukkan kepala, “Iya… Udah 3 taun….”
“Adek tahu kenapa adek muntah-muntah terus?”
“Ga tau… Saya juga ga mau muntah terus. Tapi dokter bilang tidak tahu. Mungkin psikologis…. tapi aku tidak sedih atau apa kok!”

Dokter pun lanjut bertanya tentang kehidupan anak saya di sekolah, kebiasaannya, kepribadiannya, hobinya, dan juga bagaimana hubungannya dengan mama, papa, kakek, nenek dan teman-teman, seperti sedang ngobrol, bukan seperti melihat dokter!

Tiba-tiba dokter bilang, “Waktu kecil bapak juga sering muntah-muntah kayak kamu lho! Cuman gak sehebat kamu muntahnya!”
“Masa! Kok bisa?”, tanya putri saya penasaran.

“Dulu bapak tinggal di desa. Nah, di desa itu semuanya sawah. Bapak tiap hari harus kasih pupuk, nah pupuknya itu dari ta*k, seperti ta*k sapi, kerbau…. Jadi bapak setiap liat itu, bapak langsung muntah! Kalau kamu liat muntah ga?”, tanya dokter.

Putri saya memasang muka jijik, “Hiiii…..”, katanya.
“Aku kalau liat papa mama gendong adek, mau muntah!”, seru putri saya tiba-tiba.
Saya sontak langsung kaget! Hah? Kenapa? Saya ingin memotong pembicaraan, tapi dokter mengisyaratkan saya untuk jangan mengatakan apa-apa, diam dulu dengarkan putri saya bicara.

Dokter tampak sangat tenang dan bertanya, “Mengapa begitu?”
“Papa mama cuma sayang adek.. Gendong adek ga gendong aku….” lalu tiba-tiba menangis.

Saya kaget sekali. Tidak pernah ia menangis seperti itu, sudah lama sekali. Mungkin dari TK, sejak adiknya lahir, ia tidak pernah menangis.
Dokter pun memberinya tisu dan membelai rambutnya sambil berkata, “Sini dokter gendong, mau ga?”.

Putri saya mengangguk-anggukkan kepala dan berjalan ke pangkuan dokter sambil menangis. Dia menangis dan menangis duduk di pangkuan dokter. Dokter menggendongnya duduk di meja, seperti seorang ayah yang sedang menghibur putrinya.

Sambil nangis, putri saya bilang, setiap kali papa pulang, papa cuma gendong adek, ga gendong dia. Dia dibully di sekolah tapi ga berani ngomong ke papa mama, tiap kali sembunyi di toilet dan menangis, mama juga sering marah sama dia, lebih banyak dari marahin adek.
Semua yang disimpan dalam hatinya selama 3 tahun ini semuanya dikeluarkan saat itu juga. Dokter lebih banyak banyak mendengar dan tidak banyak berbicara, membiarkan anak saya menangis sepuasnya.
Setelah tangisannya agak reda, dokter baru bertanya, “Kamu pengen digendong sama papa mama?”

Sambil menangis, putri saya mengangguk-anggukan kepala dan berkata, “………Mau….”

Hati saya sakit sekali. Sulit dipercaya bahwa alasannya muntah-muntah terus selama ini ternyata hanya karena saya tidak memeluknya! Setelah melahirkan anak laki-laki, padahal saya selalu mengingatkan diri saya untuk tidak pilih kasih, tidak boleh mengabaikan putri saya. Saya sama sekali tidak terpikirkan putri saya begitu sensitif, merasa papa dan mama tidak sayang padanya!

Setelah tangisannya reda, dokter menulis resep obat. Dokter bilang obat ini untuk membantu pencernaan dan menjaga keseimbangan elektrolit dalam tubuh, supaya tubuhnya tetap sehat walaupun muntah.

“Lalu apa aku masih akan muntah?”, tanya putri saya.
“Dokter punya satu cara supaya kamu tidak muntah lagi. Kamu mau denger ga?”, tanya dokter.

“Kamu kalau ada rasa mau muntah, cepet-cepet peluk papa mama. Kalau dipeluk, kamu ga akan muntah lagi.”
Dokter juga berpesan kepada saya, “Nanti pulang bilang sama bapak, harus pastikan memeluknya. Dia butuh pelukan Anda.”

Dokter menyuruh kami untuk kembali lagi Sabtu depan, dan sebaiknya papa dan adek dibawa juga. Ternyata benar, sepulangnya dari rumah sakit hari itu, selama 1 minggu, ia tidak muntah lagi, malah kelihatan ia lebih ceria dari biasanya.

Sabtu siang, kami sekeluarga kembali menjumpai dokter di rumah sakit. Ketika berjumpa dengan dokter, putri saya langsung berlari ke pangkuan dokter. Dokter pun memangku putri kami dan mulai berbincang-bincang dengan kami.

Kali ini, putri kami bisa sembuh karena ia telah membuka hatinya. Ternyata selama ini, ia diam-diam menyalahkan ayah tidak sayang padanya, lebih sayang adik. Ia pun jadi benci juga sama adik karena cemburu, merasa tidak adil.

Dokter pun memberi sara untuk mengubah kebiasaan di rumah, yaitu:
1. Kalau papa pulang, pertama peluk kakak dulu, baru peluk adek
2. Kalau adek dibelikan apa, pastikan kakak juga dibelikan
3. Jangan sembarangan menengur anak, tapi ajak mereka bicara
4. Orang tua harus lebih memperhatikan psikologis anak

Semoga Bermanfaat.

Sumber: Fb/Hana Stefanny (27 Juli 2017)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di Inspirasi

Advertisement “Azula
Advertisement
To Top