Connect with us

Ternyata Begini Kisah Terjadinya Hari Raya Galungan dan Kuningan

Bali

Ternyata Begini Kisah Terjadinya Hari Raya Galungan dan Kuningan

Menurut Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan pertama kali dirayakan pada tanggal 15, hari Purnama Kapat, tepatnya Budha Kliwon Dungulan di tahun 882 Masehi atau Saka 804. Kata Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti Bertarung. Sedangkan, Dungulan berarti Menang. Jadi, secara etimologis Hari Raya Galungan merupakan hari kemenangan dari sebuah ‘pertarungan’. Pertarungan apakah yang dimaksud?

Dikisahkan, dahulu kala Bali dipimpin oleh seorang raja angkuh dan sakti, keturunan raksasa, bernama Mayadenawa. Kesaktian tersebut diperoleh dari Dewa Siwa atas ketekunannya memohon pada sang Dewa. Berkat kesaktian dan keangkuhannya, Mayadenawa mampu menguasai seluruh Bali dan memperluas kekuasaannya hingga Lombok, Sumbawa, Bugis, dan Blambangan.

Tidak hanya itu, Mayadenawa juga menghancurkan pura yang ada dan melarang umat Hindu memuja para Dewa. Mengetahui kekejaman tersebut, seorang pendeta yang bernama Mpu Sangkul Putih, yang juga Pemangku Agung di Pura Besakih merasa sedih. Akhirnya, ia melakukan meditasi untuk memohon petunjuk pada para Dewa. Dari tapa tersebut, ia mendapat petunjuk dari Dewa Mahadewa untuk pergi ke Jambu Dwipa (India) untuk meminta bantuan pada Dewa Indra.

Bala bantuan pun datang dibawah pimpinan Dewa Indra. Mayadenawa pun tahu perihal kedatangan pasukan Dewa Indra berkat mata-matanya. Pasukan disiapkan. Perang dahsyat pun terjadi dan banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak.

Pasukan Mayadenawa ketakutan hingga meninggalkan peperangan. Mayadenawa merasa terpojok, saat itu ia segera mencari cara licik untuk melumpuhkan pasukan Dewa Indra. Pada malam hari, pergilah ia ke sebuah sumber air dan menaburinya dengan racun. Pagi harinya, pasukan Dewa Indra meminum air tersebut dan keracunan. Namun, beruntung Dewa Indra cepat tanggap dan menciptakan sebuah mata air untuk menangkal racun Mayadenawa.

Setelah pasukan pulih, pengejaran pun dilanjutkan. Dalam pelariannya, Mayadenawa sempat bersembunyi di sebuah gua, merubah wujud menjadi burung raksasa (Manuk Raya), batu besar, hingga buah cempedak. Namun, semuanya sia-sia berkat kesaktian Dewa Indra. Mayadenawa pun berhasil dilumpuhkan dengan panah.

Demikianlah akhirnya Hari Raya Galungan dimaknai sebagai hari kemenangan kebaikan (dharma) melawan kejahatan (adharma) yang dikiaskan melalui pertarungan Raja Mayadenawa dan Dewa Indra. Kemenangan itu dirayakan dengan memasang Penjor, bambu melengkung sebagai wujud gunung yang dihiasi dengan berbagai hasil alam. Berharap, agar kemakmuran selalu melimpah disertai kebahagiaan.

Sepuluh hari setelah Galungan, datanglah Hari Raya Kuningan. Menurut Babad Bali, Kuningan sebagai hari turunnya Sang Hyang Widhi Wasa, para Dewa, dan leluhur, yang bertujuan untuk melimpahkan karuniya berupa kebutuhan pokok. Kuningan juga identik dengan nasi berwarna kuning sebagai simbol kemakmuran. Yadnya dihaturkan sebagai ucapan terima kasih pada Hyang Widhi atas karunia Beliau. (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di Bali

Advertisement
To Top