Connect with us

Dari Rajin Jadi Sering Menunda, Pahami Penyebab Motivasi Anak Menurun

Family

Dari Rajin Jadi Sering Menunda, Pahami Penyebab Motivasi Anak Menurun

Ketika anak yang biasanya rajin tiba-tiba berubah menjadi suka menunda, banyak orang tua langsung khawatir atau menganggapnya sebagai tanda kemalasan. Padahal, perubahan perilaku ini sering kali memiliki penyebab yang lebih dalam dan tidak sekadar enggan mengerjakan tugas. Memahami akar masalahnya membuat orang tua bisa memberikan respons yang tepat dan membantu anak kembali menemukan ritme belajarnya.

1. Tekanan Akademik yang Semakin Berat
Seiring bertambahnya usia atau tingkat sekolah, tuntutan belajar anak biasanya meningkat. Pelajaran lebih sulit, PR lebih banyak, dan standar nilai makin tinggi. Anak yang awalnya rajin bisa merasa kewalahan sehingga menunda sebagai bentuk kabur sementara dari beban tersebut. Penundaan sering kali merupakan tanda bahwa anak membutuhkan bantuan memahami materi atau mengatur beban belajarnya.

2. Perfeksionisme yang Tidak Disadari
Sebagian anak memiliki kecenderungan perfeksionis. Mereka ingin semua berjalan sempurna misal hasil bagus, tulisan rapi, atau tugas tanpa kesalahan. Ketika targetnya terasa sulit dicapai, anak bisa menunda hanya karena takut hasilnya tidak sesuai harapan. Perfeksionisme tidak terungkap lewat kata-kata; sering kali justru muncul dalam bentuk prokrastinasi.

3. Kehilangan Motivasi Internal
Pada awalnya anak mungkin memiliki semangat belajar yang tinggi, tetapi motivasi itu bisa menurun ketika belajar tak lagi terasa menyenangkan. Jika aktivitas hanya berorientasi pada nilai atau pujian, anak bisa kehilangan dorongan internal. Ketika motivasi melemah, menunda menjadi pilihan yang paling mudah. Ini tanda bahwa anak perlu menemukan kembali hubungan positif dengan proses belajar, bukan hanya hasil akhir.

4. Perubahan Emosi atau Stres yang Tidak Terlihat
Anak bisa menghadapi stres dari sekolah, teman sebaya, atau lingkungan keluarga. Mereka mungkin tidak mengungkapkan langsung, tetapi tubuh dan perilakunya berubah. Tugas sekolah mulai ditunda, konsentrasi menurun, dan anak tampak mudah lelah. Menunda pekerjaan bisa menjadi mekanisme coping sederhana ketika mereka merasa emosinya tidak stabil.

5. Kurang Tidur dan Kelelahan Fisik
Anak yang tidur tidak cukup akan sulit fokus dan tidak punya energi untuk mengerjakan tugas tepat waktu. Kurangnya istirahat membuat otak bekerja lebih lambat, sehingga tugas kecil pun terasa berat. Ketika fisik lelah, menunda menjadi reaksi alami untuk menghemat energi.

6. Gangguan Konsentrasi atau Distraksi Berlebihan
Gadget, video, dan permainan digital bisa menyerap perhatian anak dengan mudah. Jika akses tidak dikontrol, fokus belajar menurun dan tugas cenderung tertunda. Bukan hanya karena godaannya kuat, tetapi juga karena anak belum memiliki kemampuan manajemen waktu dan disiplin yang matang.

7. Kurang Dukungan atau Pendampingan yang Konsisten
Ketika anak merasa sendirian menghadapi tugas yang sulit, mereka mudah kehilangan semangat. Anak membutuhkan rasa didampingi, baik dalam bentuk bimbingan, pertanyaan kecil seperti, “Kesulitannya di mana?”, atau sekadar duduk bersama saat belajar. Pendampingan yang tidak konsisten dapat membuat anak merasa tertekan atau bingung sehingga memilih menunda.

Perubahan dari rajin menjadi suka menunda bukan berarti anak menjadi pemalas. Ada banyak faktor yang memengaruhi perilaku ini, mulai dari tekanan akademik hingga kondisi emosional. Dengan mengenali penyebabnya, orang tua bisa membantu anak mengatur waktu, menyeimbangkan aktivitas, dan membangun kembali motivasi belajar secara lebih sehat.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di Family

Advertisement
To Top