Connect with us

Tidak Harus Dipenuhi! Cara Hadapi Anak yang Fomo Ikut Les Karena Temannya

Family

Tidak Harus Dipenuhi! Cara Hadapi Anak yang Fomo Ikut Les Karena Temannya

Tidak jarang anak pulang ke rumah dengan satu permintaan yaitu ingin ikut les karena teman-temannya juga ikut. Bagi orang tua, situasi ini sering menimbulkan dilema antara takut anak tertinggal dan khawatir anak justru terbebani. Permintaan tersebut perlu disikapi dengan bijak, karena di baliknya ada kebutuhan emosional, sosial, dan perkembangan yang berbeda pada setiap anak.

1. Memahami alasan di balik keinginan anak
Ketika anak fomo (fear of missing out) meminta ikut les karena teman-temannya, yang muncul sering kali bukan kebutuhan akademik, melainkan kebutuhan sosial. Anak ingin merasa diterima, tidak tertinggal dari kelompoknya, dan tetap menjadi bagian dari lingkaran pertemanan. Memahami alasan ini membantu orang tua melihat bahwa permintaan anak bukan semata-mata soal belajar, tetapi tentang rasa aman dan kebersamaan.

2. Membedakan kebutuhan anak dan tekanan lingkungan
Tidak semua hal yang dilakukan teman perlu diikuti anak. Orang tua perlu membantu anak membedakan antara kebutuhan pribadinya dan tekanan lingkungan. Jika anak sebenarnya baik-baik saja secara akademik dan emosional, mengikuti les hanya karena takut berbeda bisa membuat anak belajar bahwa dirinya harus selalu menyesuaikan diri, bukan memahami kebutuhannya sendiri.

3. Mengajak anak berdiskusi sebelum mengambil keputusan
Alih-alih langsung mengiyakan atau menolak, orang tua dapat mengajak anak berdiskusi secara terbuka. Percakapan ini membantu anak belajar mengungkapkan alasan, harapan, dan kekhawatirannya. Dengan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, anak merasa dihargai dan belajar bahwa pendapatnya penting, meski tidak selalu harus dipenuhi.

4. Menilai kesiapan anak secara menyeluruh
Keputusan mengikuti les sebaiknya mempertimbangkan kondisi anak secara utuh, termasuk waktu istirahat, minat belajar, dan kapasitas emosionalnya. Anak yang terlalu lelah atau tidak memiliki ketertarikan justru berisiko kehilangan motivasi belajar. Orang tua berperan menilai apakah les tersebut akan membantu perkembangan anak atau justru menjadi beban tambahan.

5. Menawarkan alternatif selain les formal
Jika tujuan anak adalah belajar atau merasa setara dengan teman, orang tua dapat menawarkan alternatif yang lebih sesuai, seperti belajar bersama di rumah, pendampingan ringan, atau kegiatan yang mendukung minat anak tanpa tekanan akademik. Pendekatan ini mengajarkan anak bahwa ada banyak cara untuk berkembang tanpa harus selalu mengikuti arus.

6. Mengajarkan anak tentang pilihan dan konsekuensi
Situasi ini menjadi kesempatan berharga untuk mengajarkan anak tentang pilihan. Anak dapat belajar bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi, baik terhadap waktu, energi, maupun kesenangannya sendiri. Dengan pendampingan yang tepat, anak belajar membuat keputusan berdasarkan kebutuhan, bukan semata-mata karena tekanan sosial.

7. Menegaskan bahwa nilai anak tidak ditentukan oleh les
Orang tua perlu menanamkan pemahaman bahwa mengikuti les bukan ukuran kepintaran atau keberhargaan diri. Anak tetap bernilai, dicintai, dan dihargai apa pun pilihannya. Pesan ini penting agar anak tidak tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya hanya cukup jika selalu mengikuti standar orang lain.

Ketika anak meminta les karena ikut teman, orang tua tidak perlu terburu-buru mengiyakan atau menolak. Yang lebih penting adalah memahami kebutuhan anak, membuka ruang dialog, dan mengambil keputusan yang berpihak pada tumbuh kembangnya.

Dengan pendekatan yang hangat dan penuh kesadaran, orang tua membantu anak belajar satu hal penting yaitu menjadi diri sendiri jauh lebih berharga daripada sekadar mengikuti arus.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di Family

Advertisement
To Top