Connect with us

Kekereb Karya Seni Rerajahan Memiliki Kekuatan Magis Sebagai Pelindung Dari Kekuatan Negatif

Bali

Kekereb Karya Seni Rerajahan Memiliki Kekuatan Magis Sebagai Pelindung Dari Kekuatan Negatif

Kekereb atau rangkub/rangkeb merupakan selembar kain yang berisikan rerajahan aksara dan gambar tertentu. Sebenarnya kekereb ini dapat dikatakan sebagai suatu karya seni namun kekereb ini biasanya disakralkan karena diyakini memiliki kekuatan niskala.

kekereb rajahan taksu rudra
Gambar dan Aksara Rerajahan Pada Kekereb

Menurut I Nengah Arimbawa penasihat Paguyuban Taksu Rudra Bhairawa, kekereb biasanya digunakan di pelawatan-pelawatan atau pralingga atau pratima yang berfungsi untuk menguatkan taksu dari pralingga tersebut seperti pada Ida Sesuhunan yang berupa rangda, barong dan lainnya.

Biasanya kekereb ini digunakan untuk menutupi tapel/wajah Ida Sesuhunan saat Beliau disineb. “Hal ini bukan menutup Ida Sesuhunan melainkan menjaga agar Roh Suci meneng/jenek dan tidak istilahnya keluar atau lepas. Untuk itulah setiap Pralingga Ida Sesuhunan harus memiliki kekereb,” I Nengah Arimbawa yang juga sering disebut dengan nama Jro Rudra Agni.

Lebih lanjut Jro Rudra Agni menyebutkan dalam suatu kekereb terdapat aksara rerajahan dan gambar. Gambar ini adalah suatu seni lukis dari si pembuat kekereb yang merupakan kearifan lokal seni dan budaya sesuai imajinasi si pembuat. Sedangkan aksara rerajahan yang terdapat di kekereb merupakan kekuatan atau yang “menghidupkan” kekereb tersebut.

Aksara rerajahan dalam kekereb disesuaikan dengan pralingga Ida Sesuhan dimana biasanya diambil dari suatau cerita atau purana tersendiri. “Dalam penyusunan aksara rerajahan ini cukup kompleks karena harus menggabungkan aksara-aksara dari cerita yang akan kita gunakan, tidak hanya menggunakan satu aksara saja,” ungkap Jro Rudra Agni.

Aksara-aksara tersebut menggunakan aksara yang sering disebut dengan Modre. Modre ini adalah aksara kedyatmikaan yang dari wreastra digabungkan menjadi bija aksara seperti Sang Bang Tang Ang Ing Nang dan lain sebagainya.

Setelah itu terjadi, aksara tersebut merupakan aksara yang belum melegena atau dikatan aksarayang belum “mepayas”. Agar aksara tersebut hidup harus ada “pepayasannya” ada suku kembung, suku, nania, pepet dan lain sebagainya.
Kemudian kesepuluh aksara tadi digabungkan menjadi satu bunyi suara dengan nama Modre.

rajahan kekereb taksu rudra
Aksara pada rerajahan yang memberikan “kekuatan” pada suatu kekereb

Melihat kompleksnya penggabungan aksara diatas, pembuat kekereb ini harusnya orang yang memang memiliki pengetahuan aksara yang “mumpuni” agar kekereb tersebut memiliki taksu energi yang baik.
Bahan kekereb menggunakan kain biasa yang banyak tersedia, tidak ada syarat khusus untuk bahan kainnya.

Untuk proses pembuatannya dimulai dari dengan memohon duwasa/hari baik(purnama, tilem atau kajeng kliwon) untuk memulai pembuatan kekereb tersebut. Sarana upakara/bebantenan yang digunakan adalah pejati atau sesantun gede dimana dalam satu wadah terdapat 4 daksina dan taksu.

Saat hari baik tersebut, pertama harus menghaturkan pakeling “nunas ica” ke Ida Sang Hyang Saraswati karena Beliau yang memiliki aksara-akasara yang akan digunakan. Yang kedua ke Ida Bhatara Ghana sebagai pemilik alat tulis, dimana kalau dahulu disebut pengerupak yang merupakan caling atau siung Ida Bhatara Gana. Disini kita memohon agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisan aksara, karena jika salah dalam menulis aksara maka kekereb tersebut tidak memiliki taksu.

Setelah semua dilakukan barulah proses pembuatan dimulai. Menurut Jro Rudra Agni, proses pembuatan ini kurang lebih 2-6 bulan tergantung dari mood si pembuat karena kekereb ini adalah termasuk suatu karya seni.

rudra agni taksu rudra bhairawa
I Nengah Arimbawa / Jro Rudra Agni

Setelah kekereb ini jadi dilanjutkan dengan proses pemasupatian dimana terlebih dahulu mencari duwasa pemasupatian. Proses ini menggunakan beberapa sarana upakara atau banten seperti banten pengrampet pasupati dan sarana pengikut lainnya. Proses pasupati ini dilakukan di Pura Mrajapati karena diyakini di Pura Mrajapati adalah diyakini sebagai tempat penciptaan dan pemrelina.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di Bali

Advertisement
To Top