Bali
Seniman Marmar Herayukti Tampilkan ‘Pejuang Adat’ di Art Bali 2019
Pameran seni rupa kontemporer, Art Bali, kembali digelar di tahun 2019. Berbeda dari tahun sebelumnya yang berlangsung selama sebulan, kali ini Art Bali 2019 berdurasi 3 bulan, dari 13 Oktober-13 Januari 2019. Mengambil tempat yang sama, yakni AB•BC Building, Bali Collection, Kawasan ITDC, Nusa Dua, pameran ini bertajuk ‘Speculative Memories’ (Ingatan-Ingatan Spekulatif).
Art Bali kali ini mendaulat 32 seniman Indonesia dan mancanegara yang menampilkan 49 karya dalam ragam seni rupa, seni lukis, instalasi, patung, video, dan new media. Salah satu seniman Bali yang terlihat memamerkan karyanya dalam Art Bali 2019 yakni, Putu Marmar Herayukti, 36, yang tampil dengan karya seni rupa 3 dimensinya yang bertajuk ‘Pejuang Adat’.
“Pejuang Adat ini saya maksudkan, saya ingin mengumpulkan jiwa-jiwa pejuang yang baru yang ingin mencari lagi, menafsirkan kembali tentang siapa kita sebenarnya, dan bagaimana kehebatan masa lalu kita,” ungkap Marmar ketika ditemui pada pembukaan Art Bali 2019, Sabtu (12/10).
Pejuang Adat yang berukuran 600 x 400 x 250 cm dan dikerjakan selama kurang lebih 20 hari tersebut berwujud sebuah miniatur perahu yang tengah diterjang ombak besar, lengkap dengan orang-orangan yang menunjukkan berbagai gestur untuk mempertahankan laju perahu agar tetap stabil. Visualnya terlihat mewah, namun siapa sangka bahan yang digunakan terbilang sederhana, yakni hanya menggunakan limbah kertas, kayu, dan tambahan rotan untuk membentuk gulungan ombak.
Tutur Marmar, Pejuang Adat yang dikerjakan bersama 6 orang lainnya ini memperlihatkan gambaran masyarakat masa kini yang dinilai telah banyak meninggalkan nilai-nilai adat karena dianggap kuno. “Padahal ada nilai-nilai luhur di situ yang susah banget ditemukan di zaman sekarang. Di tengah keinginan menjadi raja sekarang ini, sepertinya itu adalah salah satu ciri bahwa nilai-nilai keadatan ini mulai ditinggalkan,” sambung pria dengan nama populer Marmarherrz itu.
Dalam karya tersebut, terdapat 6 tokoh yang terdiri dari pemimpin yang terlihat berdiri dan berusaha mengembalikan dan mengarahkan rakyatnya menjalani tugasnya masing-masing dengan jujur. Sementara, tokoh-tokoh lainnya menempati posisinya masing-masing sebagai pemberi gagasan, pelaksana, pengikut arahan, serta pemikir atau penafsir segala kemungkinan.
Selain miniatur manusia, ada pula senjata berbentuk keris yang disimbolkan sebagai penyambung ketajaman dari kecerdasan pikiran, yang menunjukkan bahwa ternyata para tetua kita dahulu telah memiliki kecerdasan pikiran yang luar biasa. Ranah adat disimbolkan sebagai sebuah kapal, yang menjadi guru untuk mengarungi lautan kehidupan zaman sekarang.
“Harapan saya dari karya ini, bagaimana orang-orang bisa menyikapi adat yang selama ini hanya digunakan sebagai sekedar nama dan cenderung hanya digunakan dalam batas-batas mencari materi dan kekuasaan tertentu. Padahal adat ini kan sebenarnya jalan hidup,” tutup pria asal Banjar Gemeh Indah, Dauh Puri Kangin, Denpasar itu.
Art Bali 2019 yang baru dibuka sejak 3 hari lalu telah menyedot ribuan pengunjung untuk menikmati karya-karya yang disuguhkan para seniman. Pameran yang dibuka langsung oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, tersebut mematok tiket masuk sebesar Rp150.000 bagi WNA dan Rp100.000 bagi WNI. Namun, khusus bagi pelajar dan pemegang KTP Bali, hanya dikenakan biaya Rp50.000 di hari Minggu. (*)

