Relationship
Merasa Jadi Teman Cadangan? Mungkin Kamu di Posisi ‘Backburner’ Dalam Pertemanan, Kenali Ciri-Cirinya!
Selama ini, istilah backburner sering dikaitkan dengan hubungan romantis yakni kondisi saat seseorang mempertahankan sosok cadangan yang tidak terlalu dekat, tapi tetap dijaga agar bisa didekati saat butuh. Tapi tahukah kamu, ternyata konsep backburner juga bisa terjadi dalam relasi pertemanan?
Hubungan pertemanan seharusnya dibangun atas dasar ketulusan, saling mendukung, dan hadir bukan hanya saat butuh. Namun, pada kenyataannya, tidak semua teman berfungsi seperti itu. Beberapa orang mungkin menyimpanmu di pinggir lingkaran sosial mereka, bukan karena tulus ingin berteman, tapi karena kamu dianggap berguna nanti kalau perlu.
Backburner Bisa Terjadi Dalam Pertemanan
Secara sederhana, backburner adalah posisi di mana kamu tidak menjadi prioritas, tapi tetap dijaga hidup oleh temanmu dengan komunikasi sesekali, basa-basi, atau perhatian palsu. Tujuannya agar kamu tetap tersedia jika suatu saat mereka membutuhkan sesuatu darimu.
“Dia nggak pernah
ngajak ngobrol duluan, tapi langsung muncul saat butuh bantuan.”
“Kalau ada masalah, dia nyari aku. Tapi kalau aku butuh, dia menghilang.”
Kalau kamu pernah merasakan hal-hal seperti itu, bisa jadi kamu sedang mengalami hubungan pertemanan ala backburner.
Ciri-Ciri Kamu Jadi Backburner Teman
Biasanya kamu hanya dicari saat mereka butuh bantuan atau informasi. Kamu pun jarang diajak berkumpul atau diajak hang out tapi tetap dikontak seperlunya. Selain itu, mereka tidak pernah benar-benar hadir saat kamu butuh dukungan. Komunikasi selalu satu arah, kamu yang mulai, kamu juga yang jaga hubungan. Ada rasa tidak benar-benar masuk dalam lingkaran mereka.
Alasan Seseorang Menjadikan Teman Sebagai Backburner
Ada beberapa alasan mengapa seseorang bisa menjadikan temannya sebagai backburner. Biasanya mereka ingin semua tetap terkoneksi sebagai cadangan sosial. Mereka juga tidak nyaman kehilangan koneksi tapi juga tidak mau berkomitmen dalam hubungan pertemanan yang sehat. Kebanyakan dari mereka punya mentalitas transaksional dalam hubungan, atau mereka hanya terbiasa dikelilingi oleh banyak orang tanpa memedulikan kualitas relasi.
Dampaknya Jika Kamu Terus Ada di Posisi Ini
Kalau terlalu lama ada di dalam relasi ini kamu bisa merasa tidak dihargai, kehilangan kepercayaan diri dan mempertanyakan nilai diri sendiri, merasa kesepian walau punya banyak teman, dan menjadi lelah secara emosional karena relasi tidak setara.
Bila hubungan ini hanya membuatmu lelah, merasa dimanfaatkan atau membuatmu tidak berkembang, mungkin sudah waktunya memberi jarak. Pertemanan seharusnya memberi energi baik, bukan malah mengurasnya.
Kamu bisa mengurangi inisiatif menjaga komunikasi, fokus membangun hubungan dengan teman yang benar-benar tulus, tidak merasa bersalah jika mulai menarik diri, mengingat bahwa kamu layak mendapat pertemanan yang saling menghargai.
Backburner dalam pertemanan memang tidak selalu terlihat jelas, tapi dampaknya bisa nyata. Mengenali pola ini penting agar kamu tidak terus terjebak dalam hubungan sepihak. Pertemanan yang sehat adalah tentang keterbukaan, kehadiran, dan rasa aman bukan sekadar jadi cadangan di waktu senggang.
Nah, kalau kamu merasa terus ada buat seseorang tapi mereka hanya muncul saat butuh, mungkin sudah saatnya bertanya, “Apakah ini benar pertemanan atau hanya koneksi sepihak yang perlu kamu lepaskan?”

