Connect with us

Burnout atau Boreout? Kenali 2 Musuh Baru Para Pekerja Kantoran

Career

Burnout atau Boreout? Kenali 2 Musuh Baru Para Pekerja Kantoran

Fenomena kelelahan kerja kini tidak hanya muncul karena terlalu banyak pekerjaan, tetapi juga karena kurang pekerjaan atau stimulasi. Dua kondisi yang kini banyak dibahas adalah burnout dan boreout, dua sisi berbeda yang sama-sama menggerus energi, motivasi, dan kualitas hidup pekerja.

1. Burnout: Kelelahan Akibat Tekanan Kerja Berlebih
Burnout terjadi ketika beban kerja, tekanan, dan tuntutan performa terasa melebihi kapasitas seseorang. Gejalanya bisa berupa kelelahan fisik, mental, serta emosional yang berlarut. Pekerja yang mengalami burnout biasanya kesulitan berkonsentrasi, kehilangan motivasi, dan mudah merasa overwhelmed. Dalam jangka panjang, burnout membuat performa menurun drastis sekaligus meningkatkan risiko konflik di tempat kerja. Kondisi ini sering muncul di perusahaan yang ritmenya cepat, tidak ada batas yang jelas antara kerja dan istirahat, atau budaya harus selalu bisa.

2. Boreout: Kebosanan Kronis Akibat Minim Tantangan
Berkebalikan dengan burnout, boreout muncul ketika pekerjaan terasa monoton, tidak berkembang, atau terlalu mudah sehingga kehilangan makna. Meski tidak terlihat seintens burnout, boreout sama-sama melelahkan secara emosional. Pekerja merasa jenuh, terjebak rutinitas, dan kehilangan sense of purpose. Ironisnya, boreout sering terjadi pada perusahaan yang tidak menyadari pentingnya job enrichment. Akibatnya, pekerja merasa bekerja autopilot tetapi tetap harus hadir secara fisik, sehingga kelelahan mental semakin menumpuk.

3. Mengapa Keduanya Sama-Sama Berbahaya?
Baik burnout maupun boreout dapat menimbulkan efek berantai yakni motivasi menurun, kualitas kerja memburuk, dan hubungan dengan rekan kerja terganggu. Lebih jauh lagi, kondisi ini mempengaruhi kesehatan mental seperti kecemasan hingga depresi. Jika dibiarkan, pekerja bisa mengalami disengagement total dan kehilangan rasa percaya diri. Perusahaan pun terkena dampaknya: produktivitas menurun, turnover meningkat, dan budaya kerja memburuk.

4. Tanda-Tanda Kamu Mengalami Burnout atau Boreout
Beberapa tanda burnout meliputi mudah marah, merasa terus dikejar waktu, insomnia, dan hilangnya antusiasme kerja. Sementara tanda boreout termasuk sering melamun saat bekerja, tidak merasa tertantang, atau merasa waktu berjalan lambat. Dua kondisi ini sama-sama membuatmu hadir tapi tidak benar-benar hadir. Menyadarinya sejak awal adalah langkah pertama untuk perbaikan.

5. Cara Mengatasinya Tanpa Harus Resign
Kabar baiknya, burnout dan boreout bisa ditangani tanpa harus pindah kerja. Untuk burnout, mulai dengan memperjelas prioritas, membatasi jam kerja, meminta bantuan, atau bernegosiasi beban tugas dengan atasan. Untuk boreout, kamu bisa meminta proyek baru, menambah skill, atau mencari cara mengembangkan peran yang lebih bermakna. Pada kedua kondisi, penting juga untuk menata ulang ritme hidup yaitu tidur cukup, olahraga ringan, hingga melakukan hobi yang memulihkan energi. Jika kondisi berlarut, konsultasi profesional seperti psikolog atau konselor karier bisa membantu menemukan strategi yang lebih tepat.

Organisasi idealnya menciptakan lingkungan kerja yang seimbang. Beban kerja harus terdistribusi dengan sehat, pengembangan karier perlu disediakan, dan komunikasi antara atasan–bawahan harus terbuka. Ketika perusahaan memberi ruang untuk evaluasi dan penyesuaian, risiko burnout dan boreout akan lebih mudah dicegah.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di Career

Advertisement
To Top