Connect with us

Pemkot Denpasar Ngaturang Bhakti Pujawali di Pura Luhur Uluwatu

Terkini

Pemkot Denpasar Ngaturang Bhakti Pujawali di Pura Luhur Uluwatu

Rangkaian puncak upacara pujawali di Pura Luhur Uluwatu, Desa Adat Pecatu, Badung, yang jatuh pada Anggara Kasih Medangsia, Selasa (13/8) berjalan dengan lancar. Pura yang terletak di ujung selatan pulau Bali ini merupakan Pura Sad Kahyangan sebagai penyangga sembilan mata angin di Pulau Bali.

Puncak pujawali tersebut dihadiri oleh ribuan pemedek dari berbagai daerah di Bali, salah satunya merupakan rombongan dari Pemkot Denpasar yang dipimpin langsung oleh Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra bersama Wakil Walikota, IGN Jaya Negara, guna melakukan persembahyangan di Pura Luhur Uluwatu.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut, Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta, Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa, Sekda Kota Denpasar, AAN Rai Iswara, Sekda Kabupaten Badung, Ketua WHDI Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, serta pimpinan OPD di lingkungan Pemkot Denpasar dan Pemkab Badung.

Serangkaian pujawali tersebut, Walikota Rai Mantra bersama Wakil Walikota Jaya Negara serta Sekda Kota Denpasar AAN Rai Iswara turut mulang pakelem di Segara Pura Luhur Uluwatu sebagai persembahan untuk menjaga keseimbangan alam semesta. 

Pengempon Pura Luhur Uluwatu, yang merupakan Panglingsir Puri Agung Jro Kuta, IGN Jaka Pratidnya, yang kerap dipanggil Turah Joko mengatakan bahwa, acara diawali dengan prosesi nedunang Ida Bhatara Dewa Agung Sakti dari Pura Pererepan Desa Adat Pecatu yang selanjutnya menuju Pura Luhur Uluwatu. Kemudian, dilanjutkan dengan prosesi ngaturang pujawali Ida Bhatara ring Pura Luhur Uluwatu yang dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Arimbawa dari Griya Tegal Sari dan Ida Pedanda Gede Made Karang, dari Griya Karang Tampakgangsul.

Lebih lanjut, Jaka Pratidnya menambahkan, setelah pujawali dilaksanakan sekitar pukul 08.00 malam, Ida Bhatara Dewa Agung Sakti mewali ke Pererepan Payogan masing-masing yang berada di Desa Adat Pecatu. Pada Rabu (14/8) sampai dengan Kamis (15/8) akan dilanjutkan dengan bakti penganyar berturut-turut oleh Kecamatan Kuta Utara yang dipuput oleh Ida Pedanda Giri Dwijaguna, Griya Sari Uma Ngenjung, Kecamatan Kuta yang dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Mas Griya Taman Siangan Balun. Sedangkan Penyineban dilaksanakan pada hari Jumat (16/8) yang dilaksanakan oleh Kecamatan Kuta Selatan dan dipuput oleh Ida Pedanda Gede Ngurah Griya Telaga Tegal.  

Prosesi penyineban Ida Bhatara dimulai pukul 09.00 wita setelah itu dilanjutkan dengan upacara pengilen-ilen dan pedatengan. “Dengan melakukan srada bhakti kehadap Ida Hyang Widhi Wasa, astukara mudah-mudahan kita di Bali pada khususnya dan Indonesia pada umumnya dijauhkan dari kebencanaan serta diberikan kekuatan dan keselamatan sehingga semua umat biasa rahayu,” ujar Turah Joko.

Jaka Pratidnya menambahkan, Puri Agung Jro Kuta dan Puri Agung Jambe Celagigendong Denpasar memperoleh tugas mengempon Pura Luhur Uluwatu sampai kini. Sedangkan warga Desa Pakraman Pecatu yang terdiri dari Banjar Kauh, Banjar Tengah dan Banjar Kangin berstatus sebagai pengemong. Ketiga banjar ini mendapat tugas yang digilir setiap enam bulannya. Sebelum melaksanakan pujawali di pura setempat, pihak desa adat dan kedua puri pengempon puramelakukan koordinasi komunikasi terkait pelaksanaan upacara, serta penyiapan sarana dan prasarana untuk kelengkapan upacara.

Turah Joko juga turut menghimbau masyarakat yang hendak tangkil dan memohon tirta wangsupada sedianya menyiapkan tempat tirta yang ramah lingkungan dan dibawa dari rumah masing-masing. “Untuk mengurangi penggunaan plastik, kami turut menghimbau kepada pemedek saat nuur tirta Ida Bhatara agar membawa tempat yang ramah lingkungan, tidak diperkenankan lagi menggunakan plastik,” himbau Turah Joko.

Bendesa Pakraman Pecatu, I Made Sumerta dalam kesempatan turut menghimbau kepada masyarakat dan penyedia jasa pariwisata terkait pelaksanaan pujawali. Dimana, sebagai salah satu destinasi wisata di Pulau Bali tentu diharapkan para wisatawan untuk menyesuaikan dengan menggunakan pakian adat madya selama pelaksanaan pujawali. “Kami menghimbau kepada seluruh pihak khususya wisatawan untuk mentaati aturan selama pelaksanaan pujawali hingga penyineban,” himbaunya.

Sementara, Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra mengatakan bahwa pujawali ini merupakan momentum bagi seluruh masyarakat untuk menjadikan sebuah momentum untuk menjaga keharmonisan antara parahyangan, palemahan, dan pawongan sebagai impelementasi dari Tri Hita Karana. Selain itu, Rai Mantra juga turut mengapresiasi penerapan upaya pengurangan plastik di Pura Uluwatu yang digagas pangempon dan pengamong pura. “Dengan pelaksanaan pujawali ini mari kita tingkatkan rasa sradha bhakti kita sebagai upaya menjaga harmonisasi antara parahyangan, pawongan, dan palemahan sebagai impelementasi Tri Hita Karana,” ungkap Rai Mantra. (Ags/Ays/Kmg)

Sumber; denpasarkota.go.id

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di Terkini

Advertisement
To Top