Bali
Kuliner Unik, Rujak Tumbuk atau Rujak Bebek Khas Bandung Di Jembatan Pekambingan
Bandung memang terkenal gudangnya kuliner-kuliner unik yang memiliki rasa yang cukup menantang untuk dicoba. Salah satunya adalah rujak tumbuk khas Bandung atau disebut juga rujak bebek.

Untuk mencoba kuliner unik ini tidak perlu jauh-jauh lagi ke Bandung. Di Kota Denpasar, tepatnya di daerah pekambingan kita sudah bisa menikmati rasa rujak tumbuk yang menggoda terutama bagi pecinta rujak.
Kang Toni, pemuda kelahiran Bandung ini mencoba peruntungan merantau ke Kota Denpasar dengan menjual rujak tumbuk atau rujak bebek khas daerah kelahirannya.
Saban hari, ia berjualan mulai pukul 10 pagi di jembatan Pekambingan, Jalan Pulau Buru, Kelurahan Dauh Puri, Denpasar Bali. Kang Toni berjualan dipinggir jembatan yang membelah Tukad Badung itu. Ia berjualan dengan cara “ngemper” dengan membawa pikulannya.
“Sebelum di jembatan saat ini, saya berjualan disekitar sungai. Kemudian saya mencoba untuk pindah diatas jembatan ini. Mudah-mudahan kelak saya bisa menyewa warung kecil supaya lebih nyaman baik untuk saya berjualan maupun pembeli,” ujar Kang Toni saat ditemui ditempatnya berjualan.
Rujak tumbuk khas Bandung ini dibuat dengan menggunakan bumbu terasi, garam, gula aren, cabai, pisang kutuk dan ubi. Untuk buahnya ada mangga, kedongdong, bangkuang dan nanas.

Cara membuatnya cukup unik. Kalau rujak biasa, bumbunya diulek baru dicampur dengan buah sedangkan rujak tumbuk cara membuatnya berbeda. Bumbu-bumbu dimasukkan ke dalam tempat khusus, kemudian ditumbuk.
Setelah bumbu ditumbuk, kemudian dimasukkan buah dimana buah yang lebih keras dimasukkan dahulu untuk ditumbuk bersama bumbu, baru kemudian dimasukkan buah yang lebih lunak untuk ditumbuk lagi.

“Khas rujak bandung ini memang bumbu dan buahnya ditumbuk sehingga rasa bumbunya lebih terasa. Bumbunyapun ditumbuknya tidak sampai halus sekali,” ungkap Kang Toni yang sudah sangat fasih berbahasa Bali ini.
Harga perporsi rujak tumbuk adalah 7 ribu rupiah yang ditempatkan dalam suatu wadah gelas plastik. Saat ini Kang Toni sudah memiliki pelanggan tetap dan pembelinyapun sudah cukup banyak. Biasanya mulai siang hari, pembeli mulai ramai bahkan sampai antri dipinggir jembatan.

Kang Toni berjualan rujak tumbuk hingga sore hari atau hingga dagangannya habis. “Pendapatan saya cukup lumayan saat ini walaupun sedang pandemi. Banyak pembeli yang menjadi pelanggan saya atau juga ada yang memang penasaran dengan rasa rujak bebek khas Bandung ini,” cerita Kang Toni menutup pembicaraan.
Salah satu pembeli Bapak Artha yang merupakan warga sekitar menuturkan kalau ia kerap membeli rujak tumbuk ini karena sangat suka dengan rasa bumbu rujaknya.
Beda lagi dengan Desak yang rela mengantri dimana ia memang penasaran ingin mencoba bagaimana rasa rujak tumbuk khas Bandung ini.
Penasaran dengan rasa rujak tumbuk khas Bandung ini, bisa cuss langsung ke lokasi ya semeton.

