Connect with us

Mengenal Pura Sabang Daat, ‘Puri Utama’ Ida Bhatara Rsi Markandeya di Bali

Bali

Mengenal Pura Sabang Daat, ‘Puri Utama’ Ida Bhatara Rsi Markandeya di Bali

Apakah Semeton sudah tahu tentang keberadaan Pura Sabang Daat? Pura yang terletak di Desa Pakraman Puakan, Desa Taro, Tegallalang, Gianyar, ini memang berbeda dari pura-pura kebanyakan. Bagaimana tidak, di pura ini sama sekali tidak terlihat bangunan pura seperti yang sering kita lihat, melainkan hanya berupa lempengan batu berpermukaan rata. Namun, konon Pura Sabang Daat menjadi puri utama ketika Ida Bhatara Rsi Markandeya melakukan perjalanan di Bali.

Lokasi Pura Sabang Daat – Admin

Diketahui, Ida Bhatara Rsi Markandeya adalah seorang Maha Yogi yang juga menjadi tokoh penting dalam perkembangan umat Hindu di Jawa, Bali, dan Lombok. Ida Bhatara Rsi Markandeya sosok penting dibalik berdirinya Pura Besakih yang merupakan ibu dari semua pura yang ada di Nusantara. Selain pura, Ida Bhatara Rsi Markandeya juga mengenalkan sistem pengairan yang disebut Subak. Beberapa nama-nama desa di Bali juga manandai jejak beliau, seperti Desa Besakih, Desa Taro, Desa Puakan, Desa Payogan, dan Desa Payangan.

Salah satu pura tertua yang Ida Bhatara Rsi Markandeya tinggalkan adalah Pura Sabang Daat karena di pura itulah pemberhentian pertama dan pertama kali Ida Bhatara Rsi Markandeya mengadakan pesamuhan dengan para pengiringnya. Menilik dari berbagai sumber, Pura Sabang Daat terdiri dari dua kata, yakni ‘Sabang’ yang berarti Saba atau Pertemuan dan ‘Daat’ yang berarti Sakral. Pura yang diperkirakan keberadaannya sejak sebelum masehi ini sampai sekarang keutuhannya masih terjaga.

“Ida pertemuan di sini membahas tempat-tempat, membagikan tempat, akhirnya desa saya dinamai ‘Puakan’ atau Pahwakan yang artinya Pembagian. Inilah purinya Ida,” ungkap Jro Mangku Sabang Daat dengan bahasa Bali halus.

Jro Mangku Pura Sabang Daat – Admin

Keunikan pura yang memiliki luas dua hektare ini tidak hanya terletak pada palinggih-palinggihnya yang berupa asagan batu, namun juga terdapat aturan-aturan yang harus ditaati oleh para pengemponnya. Sebesar apapun upacaranya, tidak boleh menggunakan gamelan dan genta, juga tidak boleh dipuput oleh sulinggih, melainkan cukup dijalankan oleh jro mangku setempat. Hal ini dikarenakan keyakinan masyarakat terhadap keberadaan pura linggih Ida Bhatara Rsi Markandeya di Pura Sabang Daat.

Penampakan Beberapa Palinggih di Pura Sabang Daat – Admin

Sementara itu, petirtaan atau odalan pura yang diempon oleh Desa Pakraman Puakan itu jatuh pada Buda Kliwon Wuku Ugu. Pura Sabang Daat hanya memiliki jeroan dan jaba sisi dengan dipagari oleh turus-turus hidup. Dalam pura tersebut terdapat lingga yoni yang berhadapan dengan linggih Ida Bhatara Rsi Markandeya. Terkait dengan tidak dibangunnya wujud pura seperti bangunan pura pada umumnya di Pura Sabang Daat ini, Jro Mangku Sabang Daat mengaku kurang paham dengan keputusan itu.

Terdapat Lingga Yoni di Pura Sabang Daat – Admin

“Itu susah saya jawabnya. Mungkin memang seperti ini, atau mungkin Ida tidak kesampaian untuk membangunnya, itu juga saya kurang paham. Namun, ada sebuah ciri berupa pohon Kayu Sugih yang menandakan pura ini agar tetap pageh dengan alam sehingga berbahan alam,” sambung Jro Mangku Sabang Daat.

Lokasi pura yang berada di tengah hutan dipercaya hanya orang yang berjodoh saja yang bisa sampai ke pura ini. Sebagian masyarakat meyakini bahwa Pura Sabang Daat merupakan tempat untuk memohon berkat hingga berobat. Ada masyarakat yang datang memohon untuk dikaruniai keturunan, jodoh, bahkan ada pula calon-calon pejabat yang memohon agar jalannya dilancarkan untuk menduduki kursi pemerintahan.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di Bali

Advertisement “Azula
Advertisement
To Top