Terkini
Pengawasan Orang Tua terhadap Anak dalam Penggunan Gadget
Kecanggihan teknologi terus berkembang dari waktu ke waktu dan membawa manusia pada kehidupan modern. Segala hal dapat diakses melalui gadget hanya dalam genggaman tangan oleh berbagai kalangan umur termasuk anak-anak. Dampak positif maupun negatif yang didapat juga beragam melihat fakta bahwa internet menyediakan segala macam informasi secara bebas. Informasi yang beredar tidak bisa dikontrol sepenuhnya, sehingga peran orang tua sangat penting dalam penggunaan gadget pada anak, sehingga penggunaan gadget oleh anak demi memaksimalkan dampak positifnya.
Dian Cahyani, seorang guru privat Bahasa Inggris sekaligus ibu 2 anak yang berusia 10 tahun dan 7 tahun, memiliki pemikiran yang sama seperti orang tua pada umumnya. Dian memperbolehkan anaknya untuk menggunakan gadget sebagai media alternatif pembelajaran selain buku untuk menambah wawasan. Dian mulai memperkenalkan gadget pada anaknya Ketika berumur 4 tahun untuk memperkenalkan huruf, angka, dan bahasa inggris di samping menggunakan kartu maupun buku yang biasa ia gunakan. Gadget mempunyai fitur yang jarang ditemukan di buku seperti fitur musik sampai kata pujian seperti “good job” yang dapat menstimulus anak.
Sebagai orang tua banyak dampak positif yang diberikan salah satunya general knowledge, internet sebagai media pembelajaran dengan banyaknya informasi yang bisa diakeses memberikan berbagai macam hal baru untuk dipelajari. Meskipun demikian, penggunaan gadget juga menimbulkan berbagai dampak negatif dirasakan oleh orang tua adalah harus merogoh kocek yang dalam dimulai dari pembelian gadget dan pulsa setiap bulannya.
Penggunaan gadget dalam hal pembelajaran untuk anak sangat membantu tentunya dengan screen time yang sudah ditentukan. Pembatasan screen time gadget merupakan suatu bentuk limitasi yang pentingkarena anak-anak masih butuh beraktivitas dan bereksplorasi di luar rumah untuk tumbuh kembang yang optimal. Screen time yang diterapakan oleh Dian adalah 1 jam sehari setelah anak mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) dan makan malam. Kesibukan orang tua yang bekerja terkadang tidak bisa sepenuhnya memantau apa saja yang diakses oleh anak saat menggunakan gadget, di sini Google Family Link berperan untuk memantau kegiatan anak saat berselancar di dunia maya, membatasi waktu pemakaian gadget ,dan mengunci perangkat sesuai pengaturan orang tua termasuk memblokir aplikasi yang tidak boleh diakeses. Google Family Link terhubung langsung ke gadget orang tua sehingga pemantauan bisa lakukan di mana saja.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa orang tua sering luput dalam menjaga ketika anak menonton video yang belum sesuai umurnya, seperti video orang berpacaran atau video horror. Tentu saja pendekatan dengan anak membantu meminimalkan konsumsi konten yang tidak sesuai. Tidak mudah untuk menjelaskan ke anak namun sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk memberikan aturan dan boundaries yang terkait dengan konsep moral salah dan benar. Aturan yang longgar diterapkan pada anak tertua yang sudah menginjak umur 10 tahun karena sudah mulai belajar bertanggung jawab dan apabila sudah menginjak umur 12 tahun, Google Family Link akan di cabut. 12 tahun adalah usia di mana anak sudah mengenal privasi dan tanggung jawab, “Contoh ketika anak sedang bermain game online, jangan sembarangan memberi nama asli dan alamat asli karena bisa saja disalahgunakan oleh orang lain ” pesan Dian.

Dian mengatakan bahwa penggunaan gadget tidak merubah tingkah laku sehari-hari anak-anaknya secara drastis, mungkin banyak anak yang diberikan gadget sampai lupa waktu dan mengganggu aktivitas bermain di luar, namun berbeda dengan anaknya, ketika teman-temannya mengajak untuk bersepeda di sekitar perumahan atau hanya sekedar bermain petak umpat setika ia lupa dengan gadget karena masih memilih untuk bermain di luar ruangan. Sehingga pentingnya aturan dan batasan dalam penggunaan gadget menjadi faktor terbesar anak tidak bergantung dengan gadget.

Penggunaan gadget identik dengan media sosial melihat perkembangan internet di Indonesia sangatlah pesat. Berdasarkan studi dan riset data yang dihimpun oleh We Are Social pada tahun 2019, pengguna sosial media di Indonesia sudah mencapai 150 juta orang. Hal ini dapat diartikan bahwa sekitar 57% dari seluruh penduduk Indonesia sudah menggunakan berbagai sosial media. Sosial media yang populer digunakan di Indonesia yaitu Youtube, Instagram, Facebook, dan yang paling terbaru adalah Tiktok. Tidak dipungkiri banyak anak di bawah umur mengunduh dan mengakses sosial media melalui gadgetnya.
Tidak dengan Dian Cahyani, ia mengatakan anak-anaknya belum boleh mengakses atau mengunduh aplikasi di gadget karena belum cukup umur. “ Setau saya untuk membuat akun Instagram minimal harus berumur 13 tahun” ucap Dian. Tapi ia menambahkan juga saat menginjak umur 13 tahun ia ingin anaknya untuk meminta izin dahulu kepada orang tua. Seperti diketahui banyak kejahatan di sosial media, sebagai orang tua tak ingin anaknya menjadi korban maupun pelaku kejahatan. Pernah saat Tiktok booming di Indonesia saat Gempi, anak dari artis Gisella Anastasia menari khas Tiktok dan dan menginspirasi anak bungsu Dian, yang suka menari untuk membuat video seperti Gempi. Namun akhirnya tidak perbolehkan oleh orang tua karena ada berita bahwa Tiktok menjual data penggunanya yang membuat takut orang tua dan memutuskan untuk menghapus aplikasi tersebut.
Peran orang tua sangat penting dalam mengontrol dan menjaga penggunaan gadget anak yang memiliki banyak dampak positif maupun negatif. Selain itu, orang tua memiliki tanggung jawab atas keputusan untuk memberi gadget pada anak, yaitu tanggung jawab untuk memastikan bahwa penggunaan gadget mendukung perkembangan anak yang optimal, dan tidak menghambatnya. Orang tua juga mempunyai peran sebagai role model yang dicontoh oleh anak-anak, sehingga orang tua seharusnya dapat memberi contoh penggunaan gadget yang baik dan benar.
Gadget tentunya tidak bisa menggantikan aktivitas yang diperlukan oleh anak seperti berinteraksi sosial, bermain di luar ruang, serta kebutuhan anak lainnya. Oleh karena itu,peraturan dan batasan perlu diterapkan agar anak-anak terhindar dari hal-hal negatif yang dapat diakses melalui gadget, dan dapat berkembang secara optimal. Semua orang tua tentunya berharap bahwa penggunaan gadget dapat berguna untuk perkembangan anak, termasuk dalam membangun tanggung jawab anak atas konten yang dibuat dan dibagikan di sosial media. Untuk mewujudkan harapan tersebut, sangat penting bagi orang tua untuk memenuhi peran dan kewajibannya dalam mengawasi dan membatasi penggunaan gadget anak.

