Bali
Perjalanan Spiritual Erlangga, Sempat Divonis Skizofrenia Akhirnya Memutuskan Ngayah Membantu Warga
Anak Agung Gede Agung Erlangga Jelantik, Pemuda kelahiran Puri Karangasem ini memiliki kemampuan supranatural atau yang sering disebut dengan anak indigo.

Sejak SMA, Erlangga begitu ia sering disapa mulai bisa merasakan dan melihat keberadaan makhluk gaib. Setamatnya SMA, ia melanjutkan kuliah di suatu perguruan tinggi dibilangan Gatsu Denpasar, dimana Erlangga mulai memiliki perilaku yang tidak seperti biasanya.
“Saya saat itu sering ngamuk-ngamuk tidak jelas, lupa ingatan, bahkan pernah saat ke kampus, sesampainya di kampus ia seperti tertidur, saat terbangun tiba-tiba saja sudah mengendarai sepeda motor menuju Karangasem,” kenang pemilik akun ig @highwinddsss ini.
Akhirnya karena kondisi seperti itu, ia memilih untuk tidak melanjutkan kuliah lagi di Denpasar. Setahun kemudian ia melanjutkan kuliah di Karangasem dengan alasan agar mudah dipantau oleh orang tuanya.
Orang tua Erlangga memutuskan untuk mengajak Erlangga mebayuh dengan harapan Erlangga menjadi lebih baik dari sebelumnya. “Saya dibayuh mungkin karena saya dianggap anak nakal saat itu. Ternyata setelah dibayuh, penglihatan gaib saya semakin terbuka.
Setelah guyuran pertama, saya melihat penampakan banyak makhluk gaib disekitar saya dan hal itu justru membuat saya panik,” ungkap pemuda kelahiran 1999 ini.
Sesampainya di rumah, semakin banyak lagi makhluk gaib yang ia lihat mulai dari pocong, kuntilanak dan jenis lainnya dimana benar-benar membuatnya tidak nyaman. “Makhluk-makhluk gaib ini terus muncul, saat mau tidur tiba-tiba nongol didepan wajah saya, saja menjadi tambah stress saat itu,” tandas Erlangga saat ditemui di tempat kuliner bilangan Letda Tantular Denpasar.

Kemudian orang tuanya mengajaknya ke beberapa paranormal salah satunya adalah Pak Taufik seorang paranormal muslim di Karangasem. Paranormal itu memebritahu kalau Erlangga memang memiliki kemampuan di dunia supranatural dan Erlangga diberikan suatu peneduh untuk membuatnya tenang.
“Saya kemudian memang merasa lebih tenang walaupun masih tetap bisa melihat keberadaan makhluk-makhluk gaib tersebut namun mereka seperti menjaga jarak dengan saya sehingga membuat saya tidak takut lagi,” cerita Erlangga.
Merasa sudah lebih baik, Erlangga kemudian mencoba melanjutkan pendidikannya ke Jepang dimana ia mencoba kuliah sambil bekerja di Negeri Sakura tersebut.
Namun belum sampai dua bulan, ia sudah harus balik lagi ke Bali karena kejadian di Bali kumat lagi disana. Ia sering melihat makhluk gaib bahkan ia sering diganggu sehingga membuatnya tidak nyaman.
Erlangga sempat menemui seorang paranormal di Jepang dan disarankan untuk pulang ke Bali. “Saya akhirnya terpaksa harus balik ke Bali. Benar-benar sangat sedih saat itu karena sekolah ke Jepang adalah cita-cita saya yang sangat ingin saya wujudkan,” ungkap Erlangga yang saat masa sekolah sangat jarang bergaul karena minder dengan keadaannya saat itu.
Sesampai di Bali ia kemudian diajak berobat ke psikiater di bilangan Denpasar. Oleh psikiater tersebut ia difonis mengidap Skizofrenia.
“Saya saat itu dibilang memiliki halusinasi yang berlebihan namun kalau dibilang halusinasi tetapi hal itu nyata. Saya melihat makhluk gaib melempar gelas, dan gelas tersebut memang bergerak dan pecah sendiri. Saat itu justru kondisi semakin memburuk apalagi ditambah dengan pengaruh obat-obatan yang diberikan,” kenang Erlangga yang juga memiliki adik seorang indigo ini.
Akhirnya orang tuanya memutuskan untuk menghentikan terapi tesebut. Suatu ketika, ia kesurupan mengamuk di rumahnya, melempar-lempar barang dan semua orang ingin dipukulnya.
Kemudian saat ditenangkan oleh bapaknya, ia pingsan kurang lebih 4 jam dimana saat pingsan itu ia didatangi oleh leluhurnya Alm. Anak Agung Barayangwangsa yang merupakan Raja di Lombok dari Puri Pamotan Cakranegara Lombok.
Oleh Gung Kompyangnya(begitu Erlangga menyebutnya), ia diminta untuk pulang ke Puri Pamotan untuk memohon suatu obat disana. Setelah sadar, saat itu juga ia minta diantar pulang ke Puri Pamotan Lombok.
Sesampainya di Puri Pamotan, ternyata disana ada obat yang sama yang ditunjukkan sebelumnya. Setelah meminum obat itu, ia berangsur-angsur pulih dan tenang. Kemudian ia mendapat pewisik dari leluhurnya tersebut kalau mau benar-benar sembuh, ia harus mau melanjuti jejak leluhurnya tersebut untuk ngayah membantu warga yang membutuhkan bantuan di dunia supranatural.
Setelah memohon petunjuk leluhurnya, Erlangga mulai menekuni dunia supranatural. Sesuhunan yang ia sungsung adalah leluhurnya yang berasal dari Puri Pamotan yang ia sering sebut dengan sebutan Gung Kompyang.
“Beliau yang menuntun saya selama ini. Saya tidak memiliki guru spiritual secara skala. Jujur saat pertama kali disuruh ngayah itu saya bingung, kerjaan seperti apa sih yang akan dijalankan. Eh tiba-tiba banyak orang yang datang ke rumah saya untuk mohon dibantu menyelesaikan masalah niskala mereka,” cerita Erlangga.
Tulus ngayah membantu umat yang memerlukan bantuan niskala
Erlangga bercerita kalau diawal ia terjun ke dunia supranatural ini sempat terbersit pemikiran kenapa harus ngayah, apakah dapat uang dari ngayah ini dan banyak waktu yang terbuang.
“Seiring waktu, akhirnya saya baru mengetahui makna ngayah tersebut dimana walaupun tidak mendapatkan uang tetapi ada hal lain yang bisa saya dapatkan. Mendengar orang yang saya bantu itu sembuh saja perasaan itu sudah sangat senang dan itu tidak bisa dinilai dengan uang. Selain itu saya juga mendapatkan pengalaman-pengalaman baru, bertemu dengan orang-orang baru dan mengetahui tempat-tempat baru yang saya kunjungi,” ungkap Erlangga yang juga memiliki hobi dalam menggambar dan desain ini.

Lebih lanjut, Erlangga juga mengungkapkan kalau ia enggan menerima sesari yang dihaturkan oleh orang yang memohon bantuannya. “Menurut saya sih, sesari itu adalah dari pasien yang memang untuk pasien itu sendiri. Kadang saya juga enggan menerima pejati, canang saja sudah cukup atau tanpa canang juga bisa. Karena saya tidak mau untuk merepotkan atau memberatkan umat yang membutuhkan pertolongan saya,” tegas Erlangga yang sering di bully saat masa sekolah ini.
Kedepannya ia berharap bisa tetap ngayah membantu umat yang membutuhkan bantuan di dunia spiritual dan juga bisa mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya salah satunya adalah menjadi desainer grafis handal.

