Connect with us

Ternyata Rambut Barong dan Rangda Dibuat dari Tumbuhan Ini

Bali

Ternyata Rambut Barong dan Rangda Dibuat dari Tumbuhan Ini

Masyarakat Bali pada umumnya pasti sering melihat dan menyaksikan barong dan rangda dalam pertunjukan Calonarang atau ketika para sesuhunan mesolah di pura. Rambutnya yang berwarna putih terlihat lebat dan menjuntai panjang hingga kaki. Terlihat indah, namun tidak banyak yang tahu terbuat dari apa rambut-rambut tersebut.

Adalah gebang, tumbuhan berserat yang bernama latin Agave sisalana. Nama gebang mungkin terdengar asing di telinga, namun gebang sangat familiar di kalangan masyarakat Desa Dukuh, Kubu, Karangasem. Tidak jelas dari mana tumbuhan berdaun pipih memanjang ini berasal, namun menurut informasi yang dihimpun dari Wayan Adi Mahardika, yang merupakan Officer Reforestasi Bentang Alam Gunung Agung di Conservation International (CI) Indonesia, bahwa budidaya gebang populer di Amerika Latin dan dikembangkan secara luas di Afrika.

Bilah-bilah gebang yang telah dipotong – IST

“Di Bali, populasi utamanya tersebar di daerah kering seperti, Buleleng bagian timur (Kecamatan Tejakula, Sawan, Kubutambahan, hingga Seririt) dan daerah Kubu di Karangasem,” ungkap Adi yang juga lulusan S2 Botani di The University of Edinburgh, Inggris, itu.

Sambungnya, ada beberapa nama lokal A sisalana yang dikenal di daerah bagian utara dan timur Bali. Misalnya, di Buleleng bagian timur dikenal dengan sebutan panggar buaya, sedangkan di daerah Karangasem seperti Tianyar dan Munti Gunung, akrab disebut pandan.

Sekitar 15 sampai 20 tahunan silam, gebang dianggap gulma oleh warga Desa Dukuh, maka keberadaannya makin menipis karena banyak dimusnahkan warga. Namun, entah siapa yang memulai, kini keberadaan gebang mulai diperhitungkan karena dianggap bermanfaat. Bahkan, kini gebang mulai diolah menjadi rambut barong, rangda, ogoh-ogoh, hingga bahan penghias penjor.

Seperti tumbuhan lainnya, gebang tumbuh musiman. Setelah dipanen, tumbuhan tersebut butuh satu hingga tiga tahun agar daun dapat dipanen maksimal. Selain pemanfaatan seratnya oleh kelompok Tani Ternak Dharma Kerti di Dusun Bahel, Desa Dukuh, gebangtidak dibudidayakan di mana-mana.

Maka untuk pemenuhan produksi, kelompok tani masih dominan mencari di desa-desa tetangga, seperti Desa Tembok (Tejakula, Buleleng) dan Desa Tianyar (Karangasem). Hanya saja, sejak kedatangan CI Indonesia (organisasi lingkungan dunia yang konsen dengan kelangsungan keanekaragaman hayati) sekitar 2,5 tahun lalu, gebang mulai ditanam di lahan seluas 2 hektare milik salah satu warga Dusun Bahel. Dana hibah sebesar Rp 60 juta pun digelontorkan CI Indonesia untuk membeli 6.000 bibit gebang. (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di Bali

Advertisement
To Top