Connect with us

Wajib Tahu, Begini Tata Cara dan Sarana Melukat di Pancoran Solas Taman Mumbul Sangeh

Bali

Wajib Tahu, Begini Tata Cara dan Sarana Melukat di Pancoran Solas Taman Mumbul Sangeh

Melukat atau aktivitas menyucikan diri dengan mata air suci kini makin menjadi trend di Bali. Setiap hari suci atau hari raya, baik tua maupun muda, beramai-ramai melukat ke tempat-tempat pelukatan yang ada di Bali. Salah satunya yakni, Pelukatan Pancoran Solas Taman Mumbul Sangeh yang berlokasi di Desa Sangeh, Abiansemal, Badung.

Objek wisata spiritual ini kian menarik karena terdapat kolam jernih yang super besar dan berisi ribuan ikan-ikan cantik, seperti ikan mas, koi, dan ikan tawar lainnya. Pengunjung juga boleh memberi makan ikan-ikan di sana. Selain itu, ada juga spot foto berupa perahu berbahan bambu yang bisa dinaiki.

Nah, di seberang Taman Mumbul, terdapat areal pengelukatan yang bernama Pengelukatan Pancoran Solas. Menurut I Gusti Agung Made Adi Wijaya, selaku Ketua Pengelola Pengelukatan Pancoran Solas Tirta Taman Mumbul Sangeh, nama Pancoran Solas telah diwarisi sejak zaman leluhur. Namun, letaknya di kolam kecil dekat kolam besar. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan, akhirnya para aparat desa mulai berinovasi untuk membuat pengelukatan karena ketika itu tempat melukat belum begitu banyak di daerah tersebut, ditambah lagi sumber air yang melimpah.

Bergandengan dengan Pemkab Badung, Pengelukatan Pancoran Solas digagas sejak 2010 dan akhirnya diresmikan pada tahun 2014. Manifestasi yang berstana di Pancoran Solas yakni Ratu Niang Sakti dan Dewi Kwan Im. Di samping itu, terdapat sebelas pancoran yang masing-masing diberi nama-nama Dewata Nawa Sanga atau dewa-dewa penguasa sembilan penjuru mata angin dan ditambah lagi pancoran Dewi Saraswati dan Dewi Gangga.

Seorang Pemedek Sedang Melukat di Pancoran Solas – Admin

Sarana yang perlu dibawa oleh pemedek saat hendak melukat berupa, satu buah pejati yang dihaturkan di hadapan pelinggih Ratu Niang Sakti dan Dewi Kwan Im, canang sari minimal 11 buah untuk dihaturkan di masing-masing pancoran, beserta sarana persembahyangan pelengkapnya.

Sedangkan, tata caranya dimulai dari sembahyang dan menghaturkan pejati di pelinggih Ratu Niang Sakti dan Dewi Kwan Im, dalam hal ini memohonkan apa tujuan yang diharapkan saat melukat. Setelah itu, menghaturkan 11 canang di hadapan masing-masing pancoran, lalu melukat. Melukat diawali dari pancoran yang paling selatan lalu ke utara. Ketika melukat, raupkan air pancoran ke wajah tiga kali, kumur tiga kali, lalu dilanjutkan dengan mengguyur seluruh badan.

Tahapan setelah melukat di pancoran dilanjutkan dengan mengganti busana yang basah dengan busana kering, lalu kembali lagi ke pelinggih untuk meminta tirta wangsuhpada dan benang tri datu.

Menurut informasi Gusti Made, sebagian besar pemedek saat melukat meminta kebersihan jasmani dan rohani serta keselamatan. Selain itu, tidak sedikit juga yang meminta obat dan agar dikaruniai keturunan.

“Tetap kami ingatkan, bahwa pemedek yang ingin melukat tidak boleh dalam keadaan haid atau sedang berduka, itu dilarang sekali. Kadang sekarang, bukan hanya orang lokal saja yang melukat, tetapi juga tamu-tamu dari luar yang menekuni spiritual tangkil ke sini,” tandas Gusti Made. (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di Bali

Advertisement “Azula
Advertisement
To Top