Connect with us

Cerita di Balik Ogoh-Ogoh Tedung Agung

Peristiwa

Cerita di Balik Ogoh-Ogoh Tedung Agung

Karya Undagi Ogoh-Ogoh satu ini sangat ditungggu-tunggu tiap tahunnya, ia adalah Gede Sentana Putra atau sering disapa Kedux. Pada Pangerupukan Nyepi di tahun 2020, Kedux membuat ogoh-ogoh yang bernama Tedung Agung. Ogoh-ogoh yang dikerjakannya dan tim sejak Januari kini telah rampung. Namun, Kedux sempat bercerita mengenai proses kreatifnya dalam pengerjaan ogoh-ogoh Tedung Agung.

Kedux awalnya mendapat ide tentang ogoh-ogoh Tedung Agung sejak Desember 2019. Ide itu berawal dari ketidakstabilan cuaca pada saat itu, yang panasnya terlalu terik. Namun sebaliknya, ketika Kedux kontes motor di Jepang, cuaca sangat dingin.

“Nah, di sana dah saya berpikir. Kok gini ya? Kemarin saya kepanasan, sekarang kedinginan. Jadi, saya ngambil keputusan, di sana orang kedinginan pakai payung dan di Bali pun orang kepanasan pakai payung. Itu sih awal idenya,” ungkap Kedux saat ditemui Denpasarnow ketika dirinya menjadi pembicara di sebuah seminar di Denpasar.

Selain masalah cuaca, filosofi yang diangkat juga seputar payung/ tedung yang identik dengan mengayomi dan meneduhkan bumi layaknya sebuah kepemimpinan. Pemimpin yang mengayomi rakyatnya. Sementara rakyak diibaratkan sebagai tiang-tiang dilindungi oleh tedung itu sendiri. Maka, semakin kuat tiang/ rakyatnya sebagai pondasi, maka tedung atau pemerintahan itu akan kokoh.

“Intinya, kalau rakyat sudah tidak kompak lagi, apapun akan rusak. Pemerintahan pun akan keos,” tambah Kedux dengan gaya bicaranya yang santai.

Tutur Kedux, referensi visual Tedung Agung datang dari payung Bali/ tedung yang sarat akan ornamen Bali dan warna-warna yang menarik. Selain tedung, Kedux juga mendapat referensi dari tarian Jauk, tarian hiburan khas Bali yang menampilkan gerak-gerak tari maskulin dan kostum yang hampir mirip dengan tedung. Yang terakhir, Kedux mengadopsi sistem hidrolik untuk membuat gerakan dalam ogoh-ogohnya agar bisa jongkok dan bangun.

Sejauh ini, Kedux sudah tiga kali menerapkan sistem hidrolik dalam pembuatan ogoh-ogohnya, dimulai dari Sang Hyang Aji Ratu Sumedang, Kumbakarna, hingga kini Tedung Agung. Sejatinya, Kedux dahulu lebih suka ogoh-ogoh yang tidak bergerak dan besar. Namun, kendati terkendala banyak kabel yang melintang di Kota Denpasar, maka ogoh-ogoh Kedux bertransformasi menjadi bergerak.

Gerakan ogoh-ogoh yang dikerjakan oleh 50 orang tim ini sendiri merupakan pengembangan dari gerakan ogoh-ogoh Sang Hyang Aji Ratu Sumedang yang cenderung vertikal. Kedux ingin meminimalisir hambatan yang pernah ia peroleh di ogoh-ogoh Kumbakarna yang sempat membuatnya kewalahan ketika Pangerupukan tahun 2019. Daya gravitasi yang besar membuat Kumbakarna yang berukuran raksasa cedera di bagian lutut karena tidak sanggup menahan beban.

Kata Kedux, tinggi Tedung Agung ketika duduk setinggi tujuh meter dan ketika berdiri mencapai 10-11 meter. Lebarnya 3-4 meter dan berbobot lebih dari 1,5 ton diukur dari kemampuan hidrolik dan tekanan gravitasi. Untuk material yang digunakan, Tedung Agung menggunakan material ramah lingkungan dengan finishing clay. Untuk Tedung Agung, Kedux dapat mengurangi berat tapel menjadi 8kg dibandingkan tapel Kumbakarna yang berbobot 40kg.

Pria yang juga seorang Builder Motor tersebut berharap agar pentas ogoh-ogoh Tedung Agung dilancarkan dan kesalahan yang sudah-sudah dapat diminimalisir. Kabar terbaru menyebutkan, bahwa parade ogoh-ogoh yang seharusnya dilakukan saat Pangerupukan ditunda hingga Agustus akibat pandemik virus corona. Selain Kedux dan STT-nya, seniman ogoh-ogoh dan STT lainnya di Bali juga telah menyerukan untuk tidak mengarak ogoh-ogohnya saat Pangerupukan demi mencegah penyebaran virus. (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di Peristiwa

Advertisement
To Top