Connect with us

Copletz, Memilih Menjadi Seorang Drummer Karena Rebutan Alat Di Studio Musik

copletz

Musik

Copletz, Memilih Menjadi Seorang Drummer Karena Rebutan Alat Di Studio Musik

I Nyoman Gede Tribayu Usadha atau yang lebih dikenal dengan sebutan Copletz adalah penabuh Drum dari Band Painful By Kisses (PBK), band beraliran Post Hardcore dari Bali. Anak muda kelahiran Panjer ini terkenal dengan ketukan Triplet single pedalnya.

copletz
Copletz – Foto oleh Kresna Peker(@adayinmylifetime_)

Saat awal mengenal instrumen musik, Copletz memilih memainkan gitar karena saat itu sepupunya mengajarkannya bermain gitar. Selain itu menjadi gitaris menurutnya sangat keren karena berada paling dekat dengan penonton, bisa berjingkrak-jingkrak diatas panggung dan juga instrumen gitar lebih terjangkau untuk dibeli saat itu.

Namun karena adanya “perebutan” alat saat pertama kali latihan di studio musik, akhirnya ia memilih untuk memainkan drum. “Saat Itu teman-teman yang saya ajak latihan rebutan untuk mengambil gitar dan bas, tidak ada yang mau memainkan drum. Akhirnya saya dengan terpaksa memilih untuk memainkan drum saat itu,” ungkap Copletz.

painful by kisses

Copletz – Foto oleh Kresna Peker(@adayinmylifetime_)

Semenjak itulah ia mulai belajar bermain drum secara otodidak. Copletz sejak SD sudah mulai menyukai musik dengan aliran Rock dan metal. Ia juga suka menonton konser musik Underground dimana membuatnya tertarik untuk memiliki band walaupun beraliran underground. Ia merasa saat diatas panggung bisa berekspresi secara bebas.

Copletz mempelajari teknik bermain drum dari lagu-lagu yang ia sukai seperti Europe, Guns N Roses dan juga mendengarkan beberapa lagu-lagu dari band underground. “Saat itu sangat susah mendapatkan referensi dari video klip, tidak seperti sekarang bisa dengan mudah kita dapatkan melalui youtube. Saya harus belajar hanya dengan mendengarkan lagunya saja,” kenang Copletz yang saat ini sedang merintis usaha Clothing bernama Comet Halley.

Dengan dasar bakat dan tekad yang kuat perlahan ia mulai bisa menguasai instrumen drum. Copletz saat itu kecantol dengan permainan Erik Sandin drummer dari Band NOFX. Ia sangat penasaran dengan teknik permainan Erik dimana ia menggunakan single pedal namun terdengar seperti triplet. Erik Sandin inilah kemudian menjadi inspirasi Copletz dalam bermain drum.

copletz

Copletz – Foto oleh Kresna Peker(@adayinmylifetime_)

Seiring waktu, masuk dunia SMA ia mulai mendapatkan referensi teknik bermain drum dari beberapa pemain drum antara lain Mike Portnoy dan Joey Jordison(drummer Slipknot). Ia mendapatkan lagu-lagu mereka dari salah satu aplikasi chat populer saat itu yaitu MiRC.
Menurut Copletz, Mike Portnoy memiliki kreatifitas pukulan dan juga yang menginsipirasinya untuk bernyanyi sambil bermain drum. Sedangkan Joey Jordison, ia suka power saat Joey perfrom dan bisa nenghasilkan musik dengan emosi tinggi.

Sekitar tahun 1996 ia membentuk sebuah band beraliran Punk Melodic yang diberi nama The Brews yang diambil dari salah satu judul lagu Band NOFX. Copletz saat di The Brews inilah sempat berkenalan tanpa sengaja dengan Jerinx (JRX) drummer SID(Superman Is Dead) di Twice Bar milik JRX di Legian. Mulai saat itulah ia sering bertukar pikiran tentang teknik bermain drum dengan JRX. Ia kemudian sempat menjadi kru drum JRX saat diawal SID bekerja sama dengan Label Musik Besar.
Disinilah ia mendapatkan pengalaman berharga mengenai profesionalitas, membentuk relasi dan cara me-manage band dengan benar. “Saya sangat berterima kasih kepada pihak manajemen SID, dari awal sudah membantu dan membentuk saya sebagai seorang musisi melalui jalan sebagai kru belakang panggung sebuah band besar,” cerita Copletz.

bayu tri usadha

Copletz – Foto oleh Kresna Peker(@adayinmylifetime_)

Copletz kemudian memutuskan untuk resign(mengundurkan diri) dari kru drum SID karena ia ingin melanjutkan band barunya yang bernama Painful By Kisses(PBK). Ia gabung di PBK dimana PBK ini awalnya sebuah project karena Band terdahulunya The Brews sedang vakum saat itu.
Memilih aliran Post Hardcore di PBK tentunya berbeda jauh dengan teknik permainan drum aliran Punk Melodic saat di The Brews, sehingga membuat Copletz harus beradaptasi dengan permainan double pedal dan ketukan drum yg lebih bervariasi.

“Kendala diawal yang saya hadapi adalah harus membiasakan kaki kiri untuk menginjak pedal dengan bertenaga,” imbuh Copletz. Kendala-kendala itu berhasil ia atasi dengan cara giat berlatih.
Copletz bercerita kalau ia memiliki pengalaman menarik yang paling diingatnya yaitu saat manggung di GOR Debes Tabanan bersama The Brews. Saat itu ia menggunakan drum yang tersedia di panggung, dimana drum tersebut menggunakan double pedal. Saat mulai manggung, pedal kanan mengalami kerusakan. Ia yang belum begitu kuat untuk menggunakan kaki kirinya untuk menginjak pedal akhirnya meminta bantuan seorang temannya untuk menekan pedal drum tersebut.

“Saat itu teman saya menggunakan tangannya untuk memainkan pedal drum yang kiri dan saya hanya memainkan bagian atas drum. Ini adalah pengalaman lucu yang akan selalu saya ingat,” kenang Copletz sambil tertawa kecil.

copz never stop

Copletz – Foto oleh Kresna Peker(@adayinmylifetime_)

Copletz bersama PBK saat ini sedang mempersiapkan rilis single lagu terbaru mereka. “Walaupun dalam masa pandemi, berkarya adalah hal yang wajib dilakukan oleh suatu Band agar tidak dilupakan oleh fansnya,” ungkap Copletz sembari menutup perbincangan. COPZ NEVER STOP !

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di Musik

Advertisement
To Top