Bali
HIPMI Bali Dorong 400 Ribu UMKM Naik Kelas Menuju Skala Korporasi
Badung, Jumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bali saat ini telah menembus angka 400 ribu unit. Pertumbuhan ini menunjukkan geliat positif sektor kewirausahaan di Pulau Dewata, namun di sisi lain juga memunculkan tantangan baru terkait daya saing dan keberlanjutan usaha.

Menyikapi kondisi tersebut, Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Bali mendorong para pelaku UMKM agar tidak hanya bertambah secara kuantitas, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas dan skala bisnis. Upaya ini dinilai penting agar UMKM lebih tangguh dalam menghadapi persaingan ekonomi yang semakin kompetitif.
Ketua Umum BPD HIPMI Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih, menyampaikan bahwa selama ini perhatian pemerintah masih lebih banyak tertuju pada penciptaan UMKM baru. Padahal, menurutnya, UMKM yang telah lama berjalan juga perlu mendapat perhatian khusus untuk naik kelas menjadi usaha berskala lebih besar.
Ia menilai, jika pertumbuhan UMKM hanya bertumpu pada penambahan jumlah tanpa dibarengi peningkatan kapasitas, maka persaingan antarpelaku usaha justru akan semakin ketat. Kondisi tersebut berpotensi membuat sebagian UMKM tidak mampu bertahan, sehingga diperlukan strategi penguatan agar UMKM bisa berkembang menjadi perusahaan yang lebih mapan.

Sebagai bentuk komitmen, HIPMI Bali menggelar Seminar Nasional bertajuk “Transformasi UMKM Menuju Skala Korporasi Melalui Venture Capital dan Private Equity” yang berlangsung di Sovereign Bali Hotel, Sabtu (7/2/2026) malam. Kegiatan ini menghadirkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI periode 2020–2024, Sandiaga Salahuddin Uno, serta Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Yusuf Wicaksono Hascaryotomo.
Sebelum pemaparan Sandiaga Uno, Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Yusuf Wicaksono Hascaryotomo, menekankan pentingnya mendorong UMKM untuk naik kelas agar mampu memproduksi barang dan jasa yang memiliki pengaruh terhadap stabilitas harga dan pengendalian inflasi. Menurutnya, UMKM yang kuat dan produktif akan berkontribusi langsung terhadap ketahanan ekonomi daerah.
Dalam pemaparannya, Sandiaga Uno menegaskan bahwa tantangan utama UMKM saat ini adalah melakukan scale-up atau peningkatan skala usaha tanpa mengorbankan keterjangkauan harga produk. Menurutnya, proses naik kelas harus tetap memperhatikan kemampuan pasar agar produk tetap dapat diterima oleh konsumen.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Dengan dukungan kebijakan yang tepat serta ekosistem bisnis yang kuat, UMKM di Bali dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi perusahaan berskala besar dan menembus pasar global.

Sandiaga turut menyoroti aspek pendanaan sebagai salah satu faktor krusial dalam proses transformasi UMKM. Ia mengapresiasi langkah HIPMI Bali yang telah mengembangkan platform bisnis ramerame.co.id sebagai salah satu skema gotong royong pendanaan usaha. Selain itu, konsep Venture Capital (VC) dan Private Equity (PE) juga dinilai dapat menjadi alternatif pembiayaan untuk mempercepat pertumbuhan UMKM.
Ke depan, Sandiaga berharap semakin banyak usaha anggota HIPMI Bali yang mampu melangkah lebih jauh, bahkan hingga melantai di Bursa Efek Indonesia melalui skema penawaran saham perdana atau IPO. Menurutnya, potensi UMKM Bali sangat besar, tinggal diperkuat dari sisi skala dan akses pendanaan.
Optimisme tersebut juga tercermin dari perkembangan organisasi HIPMI Bali. Sepanjang tahun 2025, jumlah anggota BPD HIPMI Bali bertambah sebanyak 119 orang. Dengan penambahan tersebut, total anggota HIPMI Bali kini mencapai 820 orang, yang diharapkan dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan UMKM menuju level yang lebih tinggi.

