Sosok
Made Bayak Angkat Isu Sampah Plastik Lewat Pameran Tunggal ‘Bhuta Kala Plastik Poleng’
Perupa kelahiran Tampaksiring, Gianyar, Made Bayak, untuk kesekian kalinya menggelar pameran tunggal. Pamerannya kali ini bertajuk ‘Bhuta Kala Plastik Poleng’ yang cenderung mengangkat isu tentang sampah plastik di Bali. Pameran yang dibuka pada Sabtu (15/5) di Second Floor Coffee ini hasil kolaborasinya dengan Galeri Zen1 yang tepat membuka cabang terbarunya pada hari yang sama.

Menurut seniman kelahiran tahun 80an itu, tema pameran kali ini memiliki makna dua sisi, yakni penghuni alam niskala dan manusia sebagai penghuni alam skala. Keduanya harus bersinergi dan tidak saling mengganggu. Sinergi itu diwujudkan dalam bentuk upakara di Bali, dalam hal ini tawur atau caru.
“Sama halnya saya memposisikan diri saya dengan plastik ini. Plastik itu sangat berguna sekali, tetapi di satu sisi ketika dia dibuang sembarangan bisa mencemari lingkungan,” ungkap Made Bayak.
Setiap karya Made Bayak mengandung material limbah plastik, seperti kantong plastik, bungkus makanan, barcode, juga perpaduan kanvas dan cat akrilik. Terdapat 26 karya yang dipamerkan di lantai 2 dan 3 coffee shop yang lokasinya berdekatan dengan Patung Niti Banda, Jalan Bypass Ngurah Rai, Denpasar itu.

Perupa yang baru saja menggelar pameran setelah dua tahun vacum ini mengusung aliran kontemporer dalam setiap karyanya. Untuk pameran ‘Bhuta Kala Plastik Poleng’ Made Bayak mengaku mengumpulkan bahan-bahannya dari berbagai sumber, seperti diambil dari tong sampah depan mini market secara simbolis, sampah pribadi, hingga dari tempat-tempat yang kebetulan didatangi Made Bayak.
“Kadang ada juga lagi ke suatu tempat, melihat plastik yang bagus, jadi disimpan juga,” sambungnya.
Lanjut Made Bayak, dulu ia sempat menerima pasokan sampah dari karma di lingkungan desanya, namun sampah malah menumpuk tidak karuan, maka kegiatan itu dihentikan dan ia memutuskan memungut beberapa yang kiranya diperlukan.
Karya-karya yang dipamerkan tidak seluruhnya baru, ada yang berasal dari tahun lalu dan sebagian lagi dikerjakan tahun 2021. Proses pengerjaan tiap karya bervariasi, ada yang seminggu jadi, ada juga yang hingga dua minggu. Pameran ini berlangsung selama tiga minggu, dari 15 Mei – 13 Juni mendatang.
“Pesan secara umum, lebih bijak menyampah saja. Kadang kita tidak dapat menghindar, semuanya berbahan sintetik dan plastik. Tapi, yang bisa kita lakukan adalah tidak membuangnya secara sembarangan. Itu saja sudah cukup,” tandas pria berambut gondrong dan dicat merah itu.

