Bali
Pura Beji Maospahit, Terdapat Kolam Dengan Arsitektur Mirip Candi Tikus dan Dijaga Ribuan Pasukan Wong Samar
Pura Beji Maospahit merupakan pura yang masih menjadi satu bagian dengan Pura Maospahit. Pura Beji ini terletak di Gang III Jalan Setiabudi, disebelah SDN 4 Pemecutan. Seperti diketahui Pura Maospahit merupakan salah satu Pura di Bali yang sudah menjadi Warisan Cagar Budaya Nasional. Pura Maospahit merupakan salah satu peninggalan dari Sri Kebo Iwa.

Karena masih menjadi bagian Pura Maospahit maka arsitektur Pura Beji juga mirip dengan Pura Maospahit. Saat masuk ke areal utama Pura Beji kita akan disambut oleh candi bentar megah dengan arsitektur perpaduan Bali dan Jawa dimana masih menggunakan batu bata merah.
Menurut Jro Mangku I Ketut Gede Sudiasna yang juga sebagai Jro Mangku di Pura Maospahit, Pura Beji ini merupakan tempat pesiraman Ida Sesuhunan di Pura Maospahit saat ada pujawali. “Ida Sesuhunan mesucian ke Pura Beji ini bukan ke segara(laut),” ungkap Jro Mangku Gede.

Lebih lanjut Jro Mangku Gede menuturkan kalau di pura ada beberapa pelinggih seperti pelinggih Ratu Ngurah Pemayun Sakti, Pelinggih Widyadara Widyadari, Penyiraman Agung, Pesayuban Agung dan Ratu Niang Tukang.
Pelinggih-pelinggih ini terletak diantara dua pohon besar dimana sebelah utara adalah pohon beringin dan sebelah selatan adalah pohon kuwang. Di depan pohon kuwang terdapat buluk/sumur tua yang konon dari cerita secara turun temurun diyakini sebagai jejak kaki Sri Kebo Iwa. Sumur ini walaupun kecil namun airnya tidak pernah habis. Selain itu walaupun berada bersebelahan dengan pohon kuwang, ajaibnya akar-akar pohon kuwang ini tidak masuk ke dalam sumur.

Air suci dari sumur inilah yang sering digunakan untuk pesiraman Ida Sesuhunan dan untuk warga/pemedek yang ingin melukat membersihkan diri baik secara skala maupun niskala. Sarana yang dibawa untuk melukat pejati, bungkak nyuh mulung/nyuh gadang dan kembang lima warna.
Penguasa areal Pura Beji secara niskala adalah Ratu Ngurah Panji Landung. Pelinggih Ratu Ngurah Panji Landung terletak di sebelah pintu masuk areal Pura disebelah timur Candi Bentar. Sebelum masuk ke areal utama Pura Beji, kita harus menghaturkan piuning dahulu berupa canang ke pelinggih Ratu Ngurah Panji Landung untuk memohon ijin akan masuk ke areal utama Pura Beji.

Diyakini, Ratu Ngurah Panji Landung memiliki ribuan pasukan wong samar sebagai penjaga areal pura sehingga areal pura ini bisa dibilang tenget/keramat. Jro Mangku Gede menuturkan kalau pernah ada kejadian beberapa tahun lalu sekitar tahun 1970-an dimana ada beberapa anak-anak SD sempat hilang kurang lebih selama seminggu. Setelah menghaturkan piuning di Pura Beji ini, barulah anak-anak tersebut bisa kembali.
Pasukan wong samar ini juga sering membantu saat ada pujawali atau ada karya di Pura Maospahit. “Pernah saat karya di Pura Maospahit, dari penuturan serati saat itu kalau mereka cepat dalam pengambilan/pembuatan sarana upakara. Apa yang mereka perlukan atau cari pasti selalu tersedia dengan cepat,” kenang Jro Mangku Gede.

Di areal Pura Beji terdapat kolam yang mengelilingi areal utama Pura Beji. Kolam ini arsitekturnya mirip dengan kolam di Candi Tikus Trowulan dimana memiliki 11 pancoran di depan 5 disamping masing-masing di bagian utara ada 3 dan di bagian selatan ada 3 pancoran . “Sekitar tahun 1995, saya mendak ke Majapahit Trowulan untuk mengucapkan rasa syukur setelah melakukan karya di Pura Maospahit. Disanalah saya dapat petunjuk untuk membuat kolam yang mirip dengan di Candi Tikus,” ungkap Jro Mangku Gede.
Piodalan di Pura Beji Maospahit ini jatuh pada rahinan Tumpek Landep. Piodalan dilakukan secara sederhana.

