Bali
Sudah Tepatkah Membuatkan Upakara Untuk Kendaraan Bermotor Saat Tumpek Landep?
Hari Sabtu (Saniscara) Kliwon wuku Landep diperingati sebagai hari suci Tumpek Landep bagi umat Hindhu. Biasanya saat rahinan ini akan bertebaran foto-foto di media sosial yang menceritakan sedang mengupacarai kendaraan bermotor yang dimiliki. Secara makna dari Tumpek Landep apakah hal ini tepat?

Menurut I Kadek Satria, S.AG, M.Pd.H, hal ini kurang tepat. Lebih lanjut Kadek Satria menuturkan, makna tumpek landep bisa diartikan sebagai memohon ketajaman manah, akal dan budi untuk keperluan dalam hidup dengan memuja Sang Penguasa Ketajaman yaitu Sang Hyang Pasupati.
Sedangkan untuk kendaraan bermotor dapat diartikan sebagai simbol kemakmuran dimana sebaiknya diupacari saat Tumpek Kuningan.
“Pemujaan kepada Dewa Mahadewa sebagai simbol dan manifestasi kemakmuran dilakukan di Tumpek Kuningan yang sering disimbolkan dengan warna kuning yang melambangkan kesejahteraan,” ungkap Kadek Satria seraya menambahkan bahwa tumpek landep adalah pemujaan kepada Sang Hyang Pasupati yang identik dengan warna merah, ketajaman, kecerdasan makanya disebut dengan landeping idep.
Lebih lanjut mengenai Tumpek Landep, dalam kehidupan kita ada dua fikiran ketajaman yang mesti diasah. Ketajaman menuju jalan sekala atau jasmani dan ketajaman menuju niskala atau rohani. Ketajaman ini memerlukan pengasahan agar benar-benar tajam.

Ada kalanya kita tajam dalam berfikir niskala atau kesunyatan dan ada pula berfikir tajam dalam duniawi atau dalam setiap keseharian kita, mungkin lebih dekat kita sebut swadharma kita. Terkait dengan hari suci Tumpek Landep, maka ada sarana yang mesti dipersembahkan umat untuk melakukan komunikasi aktif kepada sang pencipta yaitu dengan mempersembahkan Banten Pasupati.

Memahami lebih jelas tentang banten pasupati mari kita simak berikut ini. Pembentuk banten Pasupati sebagai berikut :
- Dua buah taledan
- Raka-raka (pisang, salak, jeruk, manggis, papaya, manga, tebu, tape, pelas,buah-buahan, jajan uli dan jajan gina)
- Daging ayam biying mepanggang
- Sebuah sampian metangga dari daun andong bang
- Sebuah Penyeneng dari daun andong bang
- Sampyan Pelaus dari daun andong bang
- Dua buah tumpeng berwarna abang
- Nasi soda dua buah berwarna abang
- Sebuah ceper perangkatan tempat rerasmen pada soda
- Sebuah kojong rangkat
- Coblong berisi asaban cendana, majegau, dan base
- Canang
Semua sarana diatas ditanding dengan penuh ketulusan untuk memohon ketajaman sekala maupun niskala. Kunci yang sesungguhnya dari hari suci ini adalah pemujaan kepada Sang Hyang Pasupati di Sanggah Kemulan.
Kenapa dilakukan pada sanggah kemulan? Menurut Kadek Satria yang juga sebagai Ketua Pasraman Pasir Ukir Buleleng, perlu kita sadari bahwa Beliau yang kita puja bersifat purusha dan pradhana, dan inilah cikal bakal dari kemulan dan taksu.
Ayah dan ibu, gunung dan laut serta unsur feminim dan maskulin. Purusha kita puja pada kemulan dan pradhana kita puja pada taksu yang memberikan kita penguatan atas professional hidup.
Setelah melakukan pemujaan maka kita akan nunas lungsuran atau sarin amertha yang kita mohonkan sebagai penguat jasmani dan rohani. Penguat jasmani adalah bahwa segala makanan itu memberikan Kesehatan jasmani, dan makanan symbol anugerah itu diyakini mampu memberikan ketajaman pada rohani kita karena menerima anugerah dari Sang Hyang Pasupati.
Ketajaman sekala dan niskala bisa kita peroleh dengan menguatkan pemujaan di hari suci Tumpek Landep, mari kita lakukan dengan baik.

