Seni Budaya
Naga Raja Sebuah Bisikan Nama Dari Pura Goa Lawah Klungkung
Siapa yang tidak mengenal Layangan Janggan Naga Raja, layangan Janggan terbesar dan fenomenal dari Banjar Dangin Peken Sanur. Layangan Janggan raksasa ini pada tahun 2016 berhasil tercatat di Museum Rekor Muri sebagai Layangan Tradisional Jenis Janggan terbesar. Naga Raja memiliki bentangan sayap sepanjang 11,3 meter, tinggi tubuh 15 meter, panjang ekor 250 meter dan memiliki berat 700 kilogram.

Rencana pembuatan Layangan Naga Raja telah dimulai sekitar tahun 2015. Deck Sotto bercerita kalau pembuatan ini berawal saat dirinya tertantang untuk membuat layangan knockdown dengan ukuran besar. Ia bersama teman-temannya memiliki tekad untuk merealisasikan rencana tersebut.

Di bulan Oktober 2015, Deck Sotto mendapatkan pawisik saat tangkil ke Pura Goa Lawah. Saat itu ia sedang duduk di pinggir pantai dekat Pura Goa Lawah, tiba-tiba mendapatkan pawisik seperti bisikan yang menyebutkan sebuah nama yaitu Naga Raja. “Saudara-saudara saya saat itu sempat bertanya-tanya, kenapa saya bicara sendiri. Saya bilang saja kalau dapat pawisik mengenai nama untuk layangan janggan yang akan dibuat,” kenang Deck Sotto saat ditemui di acara UMKM Layang-Layang EXPO 2021.

Setelah mendapatkan nama Naga Raja, ia bersama rekan-rekannya di Banjar Dangin Peken mulai mengerjakan layangan Janggan ini di bulan Januari tahun 2016. Ia kumpulkan undagi-undagi utama dari Banjar Dangin Peken dari yang membuat desain, ekor, hiasan, tapel dan pecukannya. “Saya bertugas memeberikan supervisi pengerjaan tersebut dan juga bersama-sama untuk memilih bambu-bambu terbaik untuk bahan pembuatan layangannya,” ungkap Deck Sotto yang juga gemar memancing ini.
Proses pembuatan layangan Naga Raja ini kurang lebih 5 bulanan dan menghabiskan biaya sekitar 100-an juta.

Perlu diketahui, Banjar Dangin Peken ini terkenal akan layangan Janggannya seperti layangan Janggan “Due” / sakral Panji Sakti dan Naga Banda. Naga Raja merupakan layangan yang dibuat setelah Naga Banda. “Jadi layangan Naga Raja ini adalah layangan baru dan bukan diambil dari versi sebelumnya. Kami membuat ulang dari nol tanpa menggunakan bagian layangan sebelumnya,” ujar Deck Sotto.

Pemilik nama lengkap Kadek Suprapta Meranggi juga menuturkan kalau ia dan teman-teman yang tergabung dalam pembuatan Naga Raja ini tidak mengetahui secara pasti bentuk dari layangan Janggan raksasa ini. Hal ini dikarenakan, Naga Raja awalnya tidak didesain untuk diterbangkan, ia hanya dibuat untuk diukur dimensinya saja untuk keperluan Rekor MURI. Namun karena Walikota saat itu Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra sempat menyentil Deck Sotto dengan mengatakan “Ini bukan layangan kalau tidak untuk dinaikkan”, akhirnya Deck Sotto bersama warga Banjar Dangin Peken sepakat untuk mencoba menerbangkan Naga Raja.

“Saat diterbangkan itulah saya dan teman-teman baru tahu bentuk seutuhnya dari Naga Raja. Bukan karena layangan sendiri ya, jujur saya sangat kagum akan bentuk Naga Raja karena saya nilai sebagai Layangan Janggan yang sempurna yang pernah saya lihat. Gegulakan Naga Raja sempurna sekali,” kenang Deck Sotto.

Tahun 2019 merupakan terakhir kalinya Naga Raja menghiasi langit Sanur. Naga Raja di tahun tersebut “disineb” (disimpan) untuk dikemudian hari akan dibangkitkan lagi terbang menghiasi langit Sanur. “Seharusnya tahun 2021 ini Naga Raja sudah bangkit dari tidurnya. Namun karena situasi pandemi dan situasi ekonomi masih kurang bersahabat kami masih menunda untuk membangkitkan Naga Raja,” imbuh Deck Sotto.
Ia juga menambahkan kalau untuk kembali bisa merakit dan menerbangkan Naga Raja membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain itu untuk menerbangkannya juga perlu banyak orang dan pasti akan menimbulkan kerumunan seperti pengalaman sebelumnya.
Menarik untuk menunggu Sang Raja “metangi” mengibaskan ekornya lagi di udara, astungkara.

