Connect with us

Bisnis Villa Diterjang Pandemi, Tidak Malu Bergelut Dengan Sampah

kecek dwi marta

Inspirasi

Bisnis Villa Diterjang Pandemi, Tidak Malu Bergelut Dengan Sampah

Pandemi saat ini sudah menghantam sektor pariwisata di Bali. Hampir semua akomodasi pariwisata kena dampaknya dan mengalami mati suri. Made Dwi Marta Purwateja, pengusaha villa di Nusa Penida menuturkan kalau villa yang ia kelola kondisinya sudah seperti hidup segan mati tak mau. Terlebih lagi pintu wisatawan asing belum dibuka hingga tulisan ini dibuat. “Villa kami sasarannya adalah wisatawan asing karena lokasi villa kami ini di areal kebun dengan setting alam. Wisatawan lokal/domestik kurang berminat terhadap lokasi villa kami”, ungkap Dwi Marta.

Dwi Marta dan Mr. JAAP

Beruntung saat awal pandemi, ada turis asing asal Belanda yang menginap di villanya. Turis asing itu bernama Jaap Venhovens. Mr. JAAP begitu ia sering disapa, tidak pulang ke negaranya karena situasi di negaranya saat itu kurang baik dan ia lebih memilih untuk tinggal di Bali sampai situasi di negaranya membaik.
Mr. JAAP sangat konsen mengenai sampah. Mr. JAAP mengajak Dwi Marta untuk membuat suatu yayasan yang konsen terhadap sampah di Nusa Penida. Dwi Marta akhirnya membentuk yayasan dengan nama Nusa Penida Bersih dimana Mr. JAAP medukung yayasan tersebut dalam hal donasi pendanaan awal seperti untuk menyewa tempat menampung sampah sementara, membeli mesin press sampah dan biaya operasional awal.

clean penida
Made Dwi Marta Purwateja

Dwi Marta menceritakan kalau dia saat itu mau tidak mau harus mencari cara untuk bertahan hidup. Kebetulan ada tawaran untuk mengelola sampah di Nusa Penida ia langsung menyetujuinya. “Walaupun harus bergelut dengan sampah, saya siap menjalaninya karena ya memang saat itu tidak ada hal yang bisa dikerjakan lagi di Nusa Penida. Untuk apa malu bergelut dengan sampah kalau hal itu bisa membantu kita untuk bertahan hidup”, ujar Dwi Marta.
Konsep utama yang ia tawarkan adalah mengajak masyarakat untuk mulai belajar memilah sampah dari rumah tangga masing-masing dan dari sampah tersebut masyarakat bisa mendapatkan uang dalam bentuk tabungan.
Saat awal yayasan ini dibentuk banyak kendala yang ia hadapi saat itu. Dari banyaknya anggapan masyarakat bahwa akan diajak jadi pemulung sampah, area banjar akan kumuh karena akan jadi tempat penampungan sampah , adanya gengsi saat mengumpulkan sampah dan masih malasnya masyarakat untuk memilah sampah di rumah masing-masing.

nisa penida bersih
Kegiatan sosialisasi bank sampah di Nusa Penida

Strategi yang ia gunakan saat itu untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melakukan sosialisasi ke masyarakat secara gencar. Ia putarkan beberapa video tentang bank sampah, dimana bank sampah itu ada di Ubud dan Kut dan dalam video itu ada ibu-ibu “sosialita” yang tanpa gengsi melakukan hal mengumpulkan sampah untuk dibawa ke bank sampah yang ada disana. Selain itu dalam sosialisasi ini ia menjelaskan jika ikut mengumpulkan sampah ada beberapa keuntungan antara lain, area tempat tinggal akan bersih dari sampah dan tentunya akan ada nilai rupiahnya dari sampah yang dikumpulkan tersebut.
Lambat laun masrayakat mulai mengerti mengenai pentingnya mendukung program yang ia tawarkan. Selain itu, saat sosialisasi ini Dwi Marta juga didukung oleh beberapa Kepala Desa yang memang memiliki pemikiran yang sejalan dengannya. Karena dukungan dari pemimpin desa inilah, proses sosialisasi menjadi lebih gampang.

bank sampah clean penida
Kegiatan bank sampah unit di Nusa Penida

Bagaimana dengan tanggapan jadi pemulung sampah? Menurut Dwi Marta ayah dari 3 orang anak ini menuturkan kalau sebenarnya bukan menjadi pemulung karena warga hanya mengumpulkan sampah yang dihasilkan dirumahnya. Cuma menurutnya, karena agar mendapatkan nilai rupiah yang lebih, masyarakat akan mencari sampah di luar rumahnya seperti di pinggir pantai, pinggir jalan dan lainnya. Sisi positifnya, pantai-pantai yang dulunya penuh sampah, sekarang sudah jauh lebih bersih.
Saat ini yayasan Nusa Penida Bersih sudah membentuk bank sampah induk dengan nama Clean Penida. Bank sampah induk ini membawahi beberapa bank sampah unit yang dibentuk di masing-masing banjar. Bank sampah unit bekerja sama dengan BUMDES yang ada di desa tempat bank sampah unit itu berada.

bank sampah nusa penida
Bank Sampah Unit Minggir Asri Lestari Nusa Penida

Sistem yang diterapkan adalah, sampah (yang sudah dipilah) yang dikumpulkan di rumah tangga akan disetor ke bank sampah unit yang ada di banjar. Bank sampah unit akan mencatat jumlah sampah dan nilai uang yang didapat. Setelah itu bank sampah unit akan meminta bank sampah induk untuk mengambil sampah dan membayar jumlah uang yang didapat dari pengumpulan sampah tersebut.
Bank sampah unit akan menyetor ke BUMDES beserta data tabungan dari masing-masing warga secara datail. Sesuai kesepakatan warga dengan pihak BUMDES, uang yang ditabung tersebut hanya bisa diambil enam bulan sekali atau pada saat piodalan. Jadi uang hasil pengumpulan sampah tersebut bisa digunakan untuk meringankan biaya piodalan.

bank sampah clean penida

Di Bank Sampah Clean Penida ini juga diterapkan layanan yang namanya layanan seratus persen. Dengan Layanan seratus persen ini , sampah yang dikumpulkan oleh bank sampah unit akan langsung diambil hari itu juga oleh bank sampah induk untuk dibawa ke gudang penampungan sampah. Hal ini berguna agar bank sampah unit yang ada di banjar tidak perlu lagi membuat tps(tempat penampungan sementara) sehingga area di banjar tidak menjadi kumuh.

nusa penida bersih
Bank sampah induk mengambil sampah dari bank sampah unit

Kendala yang ada saat ini adalah dari pihak diluar masyarakat itu sendiri yaitu biasanya dari pemulung. Banyak dari pemulung ini menaikkan harga pembelian sampah dari warga sehingga melebihi harga beli dari bank sampah unit. Untuk mengatasi ini, pihak bank sampah induk tetap melakukan sosialisasi bahwa pentingnya mengumpulkan sampah ke bank sampah unit di banjarnya karena banyak keuntungan yang bisa diperoleh oleh masyarakat.
Selain kendala diatas, kedepannya ia berharap bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah terutamanya pemerintah Kabupaten Klungkung. “Kami berharap bisa disubsidi untuk biaya angkut dari gudang ke pencacah sehingga kami bisa membeli sampah dari masyarakat dengan harga yang lebih tinggi lagi”, ungkap Dwi Marta.
Dwi Marta juga menjelaskan kalau prospek dari Bank Sampah ini sangat bagus kedepannya karena sampah yang dihasilkan dari rumah warga tidak akan pernah habis, akan selalu ada sampah yang dihasilkan.

nusa penida bersih
Prosees mengangkut sampah untuk dibawa ke pencacah sampah

Bagaimana Bli dan Mbok? ingin mengikuti jejak Dwi Marta untuk bergelut dengan sampah?Jangan malu walaupun harus bergelut dengan sampah yang penting dari sampah bisa mendapatkan penghasilan untuk bertahan terutama dalam masa pandemi ini.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di Inspirasi

Advertisement “Azula
Advertisement
To Top