Inspirasi
Odah Kartih, Keliling Berjalan Kaki Jualan Beragam Bubuh Bali
Usia tua bukan halangan untuk mencari rejeki apalagi dalam kondisi ekonomi sulit seperti saat pandemi ini. Odah I Wayan Kartih tetap semangat mencari rejeki untuk keluarganya meski umurnya sudah terbilang usur sekitar 80 tahunan.

Odah Agik begitu ia sering disapa, berjualan berbagai macam bubuh tradisional Bali seperti bubuh bumbu bali, bubuh injin, kolak, es daluman dan kadang juga menjual nasi cekuh dan lauknya.
Walaupun disuguhi secara sederhana namun rasa bubuh bumbu Balinya sangat enak dan bubuh Balinya ini paling cepat habis. “Bubuh Bali jam 9 biasanya sudah habis, banyak yang suka karena rasanya enak dan harganya tidak mahal bisa beli mulai harga 5 ribu rupiah,” cerita Odah Kartih saat ditemui di seputaran Jalan Nusa Kambangan.

Untuk bubuh injin,kolak atau dalumannya kita bisa memilih menggunakan gula Bali(gula aren) atau gula pasir cair(gula cair yang berwarna merah). Rasanya tentunya tidak perlu diragukan lagi dengan harga 5 ribu rupiah seporsi.
Odah Kartih setiap harinya berjualan keliling berjalan kaki di seputaran Jalan Nusa Kambangan, Pulau Sulawati dan sekitarnya. Kadang ia juga ditemani cucunya yang ikut membantu neneknya berjualan keliling dengan semangat.

Pagi hari jam 6 ia mulai jualan di depan salah satu banjar di bilangan jalan Nusa Kambangan bersama anak laki-lakinya. Sekitar pukul 8 atau 9 pagi barulah ia berjualan keliling untuk menu makanan yang masih tersisa. Odah Kartih yang sudah berjualan sejak remaja ini menuturkan kalau dirinya berjualan dengan semangat dan senang hati demi keluarganya tercinta.

Semangat Odah Kartih ini perlu ditiru, walaupun usia sudah usur tetapi tetap berusaha mencari penghasilan di masa pandemi yang sulit ini dengan berjualan anek bubuh Bali dengan berjalan kaki keliling menelusuri jalanan yang panas dan kadang harus kehujanan.
Tetep sehat odah semoga selalu mesari !!!

