Olahraga
Panahan Tradisional, Melestarikan Budaya Sekaligus Meningkatkan Fokus dan Konsentrasi
Panahan Tradisional merupakan salah satu olah raga tradisional yang merupakan salah satu warisan budaya leluhur kita. Panahan Tradisional ini juga sering disebut dengan nama Jemparingan yang berasal dari Yogyakarta. Olah raga panahan tradisional ini adalah salah satu cabang dari KORMI(Komite Olah Raga Rekreasi Masyarakat Indonesia).

Menurut Anak Agung Anom Giri tokoh sekaligus pelatih Panahan Tradisional di Bali, panahan tradisional ini menggunakan busur dan anak panah dari bahan bambu atau kayu. Menurutnya lagi, cara memanah panahan tradisional adalah untuk laki-laki duduk bersila dan perempuan duduk bersila dan saat bertanding, pakaian yang digunakan adalah pakaian adat daerah masing-masing peserta.

Anom Giri yang sebelumnya menekuni beberapa bidang olah raga ini tertarik untuk menekuni olah raga panahan tradisional ini karena ia merasa jenuh saat masih duduk di pengurus PERPANI(Persatuan Panahan Indonesia) Bali. Kemudian di tahun 2009 ia mulai membentuk sebuah club panahan tradisional dengan nama Jepun Bali Traditional Archery Club (JBTAC). Nama Jepun ia ambil karena Bunga Jepun adalah salah satu bunga yang terkenal di Bali dimana baunya harum dan bisa tahan lama.

Perjalanan Jepun Bali Traditional Archery Club ini pada awalnya terseok-seok karena masyarakat masih belum banyak mengetahui mengenai panahan tradisional dan masih bersikap “sinis” dengan kata tradisional saat itu. Pada tahun 2012 club panahan ini diresmikan oleh Walikota saat itu IB. Rai Dharmawijaya Mantra.

“Panahan tradisional ini sangat sederhana baik dari segi alat dan teknik memanahnya. Selain itu dengan belajar panahan tradisional berarti turut melestarikan budaya leluhur kita dan sekaligus belajar meningkatkan fokus dan konsentrasi kita. Yang diolah disini adalah rasa,” tutur Anom Giri saat ditemui di lokasi latihan di Taman Jepun Tanjung Bungkak.

Ia juga membentuk klub panahan tradisional ini untuk memupuk rasa kekeluargaan antara sesama anggota klub dimana anggota klub ini terdiri dari anak-anak, dewasa sampai orang tua. “Mereka harus terbiasa untuk saling menyapa, saling membantu dan saling perhatian antara sesama anggota maupun lingkungan sekitar,” tutur Anom Giri yang juga duduk sebagai penasihat KORMI Bali.

Jepun Bali Traditional Archery Club saat mengikuti pertandingan
Saat latihan di club ini, para pemanah menggunakan baju adat madya(adat ringan) sedangkan saat lomba menggunakan pakaian adat Bali dengan ciri khas warna tridatu (merah, putih dan hitam). Jepun Bali Traditional Archery Club sangat aktif untuk mengikuti kejuaraan di berbagai daerah dan menjadi salah satu klub panahan tradisional yang diperhitungkan khusunya untuk tingkat anak-anak. Klub ini beberapa kali pernah menjadi juara dalam kejuaraan baik tingkat Bali dan Nasional.

Untuk bisa belajar panahan tradisional bisa dimulai dari anak umur 5 tahun atau TK. Jarak pemanah dengan sasaran juga disesuaikan dengan umur anak. Mulai dari 10m untuk anak TK, SD kelas 1 dan 2, 20m sampai kelas 6 Sd dan 30m untuk SMP keatas.
Anom Giri selama mengurus klub Jepun Bali ini memiliki pengalaman menarik saat berangkat lomba ke pulau Jawa. “Saat itu ada salah satu anak dalam kondisi sakit namun anak tersebut memaksa untuk tetap berangkat lomba sedangkan orang tuanya melarang untuk berangkat. Anak tersebut tetap ikut berangkat dan entah kenapa sampai di tempat lomba anak tersebut menjadi sehat dan bisa mengikuti lomba dengan baik,” kenang Anom Giri.
Anom Giri berharap kedepannya para remaja bisa mencintai budaya terutama budaya panahan tradisional ini dan bisa berprestasi untuk tingkat nasional. Selain itu ia juga berharap dari Disdikpora bisa membantu untuk mensosialisasikan panahan tradisional ini ke sekolah-sekolah SD Negeri terutama SD di seputaran Denpasar dan Badung.

“Jika ada yang berminat dengan olah raga panahan tradisional ini, bisa datang langsung ke Taman Jepun Tanjung Bungkak. Disini akan kami siapkan busur dan anak panahnya agar bisa mencoba langsung cara memanah panahan tradisional,” imbuh Anom Giri.
Berminat untuk menjadi Arjuna atau Srikandi? Bisa datang langsung ya semeton untuk mencoba panahan tradisional.

