Connect with us

Sulap Cili Jadi Souvenir Anti-Mainstream

Inspirasi

Sulap Cili Jadi Souvenir Anti-Mainstream

Sadar akan potensi alam yang dimiliki desanya di Desa Tianyar Barat, Kubu, Karangasem, Komang Sukarma, 25, melihat peluang jeli untuk mendirikan bisnis souvenir berbasis daur ulang sekaligus ramah lingkungan yang dinamai Cilota Bali.

Cilota yang berbahan dasar daun lontar tersebut dibentuk menjadi Boneka Cili dan divariasikan ke dalam berbagai souvenir untuk acara formal maupun semi formal. Masyarakat Tianyar Barat juga diberdayakan dalam sebuah komunitas yang dinamai Kelompok Usaha Rumah Tangga Cilota Bali.

Beberapa produk Cilota Bali – IST

“Cilota Bali adalah start-up business sociopreneur berbasis ramah lingkungan dan kreativitas dengan mengangkat budaya lokal dan potensi alam pedesaan. Cilota Bali memiliki arti, produk kerajinan handmade dari Cili, simbol budaya Hindu dan potensi alam lontar, yang disingkat menjadi CILOTA,” papar Komang.

Berbicara soal bahan daur ulang dan ramah lingkungan, Cilota Bali menggunakan bahan utama daun lontar yang banyak ditemui di Desa Tianyar Barat. Selain itu, ada pula bahan-bahan daur ulang seperti, koran bekas, kertas bekas, kardus bekas, kepingan CD bekas, kain-kain perca, dan karung bekas. “Kami mendapatkannya dari para penabung sampah di bank sampah kami yaitu Bank Sampah Cilota dan pembelian secara pribadi,” tambah Komang Sukarma.

Beberapa jenis produk yang dihasilkan Cilota Bali antara lain, cinderamata dan beberapa keperluan rumah tangga seperti, boneka wisuda jam dinding (Bowing Cilota), plakat Cilota, Eco-Ethnic Goodie Bag, Eco-Seminar Kit, souvenir untuk acara pernikahan, ulang tahun, dan event-event MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition).

Bisnis besutan Komang Sukarma bersama kawannya, I Gusti Putu Surya Angga Buana tersebut, menargetkan konsumennya berasal dari kalangan universitas, komunitas, sekolah, wisatawan nusantara dan mancanegara, pelaku usaha (restoran, mini market), event organizer, serta MICE.

Produk Cilota Bali memiliki harga yang bervariasi, sebagai contoh, untuk produk Bowing Cilota dan Plakat Cilota, dipatok dengan harga Rp 120.000 hingga Rp 450.000. Sedangkan untuk Eco-Ethnic Goodie Bag, dijual dengan kisaran harga Rp 35.000 hingga Rp 80.000. Harga tersebut sudah termasuk pesanan costume atau sesuai keinginan pelanggan.

Sejauh ini, Komang Sukarma mengaku produknya sudah terjual ke berbagai instansi hingga ke luar negeri, seperti Universitas Udayana, Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, IPB, STAN, Universitas Brawijaya, Universitas Kirana Nusantara, Pemerintah Kabupaten Karangasem, ekspor ke Jepang, Korea, hingga Taiwan.

Beberapa instansi bahkan ada yang sudah berlangganan souvenir Cilota Bali dalam bentuk boneka cili jam dinding dan plakat. “Progres kami untuk tahun 2019 ini akan lebih fokus pada pengembangan inovasi dan varian produk Cilota, seperti gantungan kunci berbahan daun lontar, produk sabun alami khas Karangasem, serta kolaborasi pembuatan suvenir aromatik berbahan alami dengan kemasan daun lontar dan daur ulang,” tutup pria yang telah hobi berbisnis sejak duduk di sekolah dasar tersebut. (*)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lainnya di Inspirasi

Advertisement
To Top