Desa Adat Renon memliki sebuah tari sakral yang bernama Tari Baris Cina. Tari Sakral ini juga merupakan warisan budaya dunia tak benda.
Tari Baris Cina terdiri dari dua kelompok penari – Foto oleh Pengempon Pura Barisan
Tari Baris Cina ini terdiri dari dua kelompok penari ,satu kelompok menggunakan baju hitam satu kelompok menggunakan baju putih yang melambangkan peperangan kelompok I Renggan dan I Renggin yang berbeda keyakinan (kebaikan dan kejahatan). Masing-masing kelompok ini terdiri dari 9 orang penari dimana masing-masing kelompok ini memiliki pemimpin yang sering disebut sebagai pengater.
Pakaian yang digunakan dalam Tari Baris ini unik tidak seperti tari baris pada umumnya. Pakaian ini juga disakralkan dimana ada prosesi ngerehin mirip seperti sesuhunan barong atau rangda. Selain itu terdapat juga 4 pedang pusaka namun tidak digunakan saat menari. Pedang Pusaka ini tedun/digunakan saat ada yang kerauhan/kesurupan. “Saat menari biasanya menggunakan pedang biasa yang tidak tajam untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena ada prosesi berkelahi seperti perang”, cerita Jro Mangku I Made Sutama.
Jro Mangku I Made Sutama
Manurut Jro Mangku I Made Sutama, Tari Baris Cina ini diyakini berawal dari cerita Ki Dukuh Jumpungan dari Nusa Penida. Ki Dukuh Jumpungan dikenal karena kesaktiannya sehingga bisa memperbaiki jalannya kepemerintahan di Nusa Penida. Ia sendiri oleh masyarakat setempat diyakini sebagai titisan atau awatara Dewa Siwa sehingga Ia dibuatkan Pura yang bernama Pura Puncak Mundi.
Ki Dukuh Jumpungan memiliki cucu yang bernama I Renggan dan I Renggin dimana kedua cucunya ini memiliki kesaktian yang sama dengan kakeknya. Namun mereka berdua memiliki kesaktian berbeda yaitu yang satunya menekuni ilmu hitam yang satunya menekuni ilmu putih.
Singkat cerita,karena perbedaan keyakinan itu, mereka berperang dimana dalam berperang menggunakan perahu, perahu ini diyakini diciptakan melalui “Jnana” dari Ki Dukuh Jumpungan. Saat perang tersebut ada pecahan dari perahu yang terdampat di pantai selatan Sanur tepatnya di daerah Blanjong dimana sekarang menjadi Pura Blanjong. Sesuai dari cerita turun temurun dan prasasti Blanjong, dalam pecahan perahu yang terdampar ditemukan peralatan perang seperti umbul-umbul,baju perang, senjata, terompet perang sampai gong/gambelan.
Gong Beri – Foto oleh Pengempon Pura Barisan
Kemudian diyakini karena ada musibah ikan terdampar sampai membusuk maka masyarakat di pesisir pantai tersebut berpindah ke tiga tempat yaitu ke Renon, Br. Cerancam Kesiman dan ke Lantang Hidung Sukawati. Masyarakat inilah yang sekarang mengempon Pura Blanjong dimana karena jumlah masyarakat Desa Adat Renon yang paling banyak , Desa Adat Renonlah yang memiliki peran yang lebih banyak.
Dalam perpindahan tersebut,juga dibawa barang-barang yang ditemukan dari perahu yang terdampar. Terdapat seperangkat gambelan,dimana gambelan tersebut sempat dibawa ke Sesetan dan Abian Kapas. Namun saat gambelan ini disuarakan di daerah tersebut menimbulkan wabah/bencana,sehingga gambelan ini dikembalikan lagi ke Desa Renon.
Gong Beri – Foto oleh Pengempon Pura Barisan
Gambelan ini kemudian dikenal sebagai gambelan sakral yang diberi nama Gong Beri. Kemudian masyarakat saat itu menciptakan sebuah tarian yang diiringi oleh Gong Beri ini, dimana saat proses tersebut ada warga yang kerauhan/kesurupan menggunakan bahasa Cina. Oleh karena itu tarian tersebut diberi nama Tari Baris Cina dan hingga saat ini selalu diiringi oleh Gong Beri.
Tari Baris Cina saat akan mesolah – Foto oleh Pengempon Pura Barisan
Tari Baris Cina sampai saat ini masih sering “mesolah” / dipentaskan terutama saat piodalan di beberapa pura seperti Pura Khayangan Tiga Desa Adat Renon, Pura Sakenan, Pura Rambut Siwi dan Pura Peti Tenget. Selain itu, Tari Baris Cina juga pernah mesolah di Penataran Agung Besakih dan Pura Watu Klotok.
Tari Baris Cina mesolah di Penataran Pura Besakih – Foto oleh Pengempon Pura Barisan
Tari Baris Cina ini memiliki keunikan dimana untuk penarinya tidak diperkenankan makan makanan mengandung daging babi saat akan mesolah/menarikan tarian sakral ini. Jika melanggar, bisa terkena masalah misalnya saat menari bisa terkena pedang tanpa sengaja atau hal lainnya.
Jro Mangku I Made Sutama bercerita kalau ia juga memiliki pengalaman dimana ia tanpa sengaja makan makanan mengandung daging babi saat sebelum Tari Baris Cina mesolah. Saat Tari Baris Cina mesolah, ia yang saat itu bertugas sebagai Jro Mangku, tiba-tiba terkena dupa yang dilemparkan dari penari yang kerauhan dan api dupa tersebut jatuh di bagian atas kepalanya. “Untungnya tidak sampai terbakar hanya udeng yg robek dan rambut yg terkena sedkit”, kenang Jro Mangku Made Sutama yang juga sebagai mantan Bandesa Adat Desa Adat Renon.
Tari Baris Cina ini sebagagi tarian sakral karena Tari Baris Cina adalah salah satu Ida Sesuhunan yang disungsung oleh warga Desa Adat Renon dan melinggih di Pura dimana Pura ini sering disebut dengan nama Pura Barisan oleh warga Renon. Pura ini terletak di Jl. Tukad Balian Renon, dimana letaknya menjadi satu dengan sanggah/ merajan warga. Piodalan atau wali jatuh pada hari Buda Manis Prangbakat.